160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT


40 Tahun Pondok Pesantren An Nahdlah Makassar, Menjaga Tradisi Menyambung Peradaban

Oleh Sudirman

(Alumni tahun 2006)
20 Juni 1986 – 20 Juni 2026, atau empat puluh tahun yang lalu, sebuah cita-cita besar ditanamkan di tanah Makassar oleh seorang ulama yang sederhana namun memiliki pandangan jauh ke depan, Allahu Yarham Drs. KH. Muh. Harisah AS. Dari semangat keikhlasan, keteguhan, dan keyakinan akan pentingnya pendidikan Islam yang berakar pada tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, lahirlah Pondok Pesantren An Nahdlah Makassar. Hari ini, ketika usia pesantren genap mencapai empat dekade, kita tidak sekadar memperingati perjalanan sebuah lembaga pendidikan, tetapi juga mengenang sebuah perjuangan panjang dalam menjaga warisan ilmu dan membangun peradaban.
Empat puluh tahun merupakan usia yang cukup untuk mengukur ketahanan sebuah institusi. Banyak lembaga lahir dengan semangat yang besar, namun tidak semuanya mampu bertahan menghadapi perubahan zaman. An Nahdlah membuktikan bahwa pondasi yang dibangun di atas keikhlasan, ilmu, dan pengabdian akan mampu melampaui berbagai tantangan. Dari generasi ke generasi, pesantren ini terus melahirkan santri, guru, dai, akademisi, birokrat, pengusaha, dan berbagai profesi lain yang membawa nilai-nilai pesantren ke tengah masyarakat.
Dalam perjalanan panjang tersebut, terdapat satu prinsip yang menjadi ruh sekaligus arah gerak pesantren, yaitu motto yang sangat masyhur dalam tradisi pesantren dan Nahdlatul Ulama:
المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح
“Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.”
Motto ini bukan sekadar kalimat yang terpajang di dinding-dinding pesantren, melainkan filosofi hidup yang nyata diterapkan dalam perjalanan An Nahdlah selama empat puluh tahun. Pesantren ini tidak pernah tercerabut dari akar tradisinya. Kajian kitab kuning, pembinaan akhlak, penghormatan kepada guru, penguatan sanad keilmuan, dan pengamalan nilai-nilai Aswaja tetap menjadi identitas utama yang dijaga dengan penuh kesungguhan.
Jika direnungkan lebih dalam, kekuatan terbesar An Nahdlah bukan hanya terletak pada bangunan fisiknya, kurikulumnya, atau jumlah alumninya. Kekuatan sesungguhnya berada pada sanad ilmu yang terus tersambung. Sanad itulah yang menjadikan ilmu tidak sekadar berpindah dari buku ke pikiran, tetapi juga dari hati ke hati, dari keteladanan guru kepada murid, dan dari generasi ke generasi.
Tema “Sanad Ilmu yang Tidak Putus, Menjaga Tradisi, Menyambung Peradaban” merupakan gambaran nyata perjalanan An Nahdlah selama empat dekade. Pesantren ini hadir sebagai mata rantai dalam sejarah panjang peradaban Islam Nusantara. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan warisan para ulama terdahulu dengan kebutuhan umat masa kini dan masa depan.
Bagi para santri dan alumni, mengenang empat puluh tahun An Nahdlah juga berarti mengenang wajah-wajah para guru yang telah mengabdikan hidupnya untuk pendidikan. Mereka mungkin tidak tercatat dalam buku sejarah besar bangsa, tetapi jasa mereka hidup dalam keberhasilan para murid yang tersebar di berbagai penjuru negeri. Setiap huruf Al-Qur’an yang dibaca, setiap ilmu yang diajarkan, setiap akhlak baik yang diamalkan oleh para alumni, menjadi bagian dari pahala yang terus mengalir kepada para guru dan pendiri pesantren.
Pada momentum Milad ke-40 ini, kita menundukkan kepala sejenak untuk mengirimkan doa kepada Allahu Yarham Drs. KH. Muh. Harisah AS dan seluruh guru yang telah mendahului kita. Semoga segala jerih payah mereka menjadi amal jariyah yang terus mengalir tanpa putus. (Al-Fatihah).

Facebook Comments Box

Baca Juga