Oleh Syamsu Salewangang
(Direktur Lembaga Kajian Pembangunan Daerah MD KAHMI Takalar dan Direktur Yayasan Mitra Indonesia Berdaya)
Kabupaten Takalar memiliki iklim tropis, curah hujan cukup, dan lahan pekarangan yang masih memungkinkan digunakan untuk kegiatan pertanian termasuk di area pemukiman. Kombinasi seperti ini menjadikan pertanian terpadu skala rumahan memiliki peluang yang sangat realistis dikembangkan yang menguntungkan warga masyarakat.
1. Kenapa Takalar Cocok Pertanian Terpadu?
– Iklim dan tanah: Suhu 25-32°C, musim hujan yang masih bersahabat dari November hingga Maret. Tanah regosol dan grumusol di Takalar cocok untuk sayur, buah, dan pakan ternak.
– Kedekatan pasar:Jarak dari Takalar ke kota Makassar dapat ditempuh antara 1-2 jam. Hasil panen dapat langsung dikirim ke pasar tradisional, restoran, atau dapur-dapur MBG tanpa rantai distribusi panjang.
– udaya gotong royong: Kebiasaan berkelompok di Takalar mempermudah pembentukan Kelompok Wanita Tani (KWT) atau kelompok tani berbasis dasa wisma.
2. Model pertanian terpadu yang bisa diterapkan di pekarangan 100-500m²
– Integrasi sayur, ternak dan ikan: Kotoran ayam/itik dapat dijadikan pupuk untuk kangkung, bayam, cabai. Air kolam lele/nila dipakai untuk menyiram sayur dengan sistem aquaponik sederhana.
– Tanaman buah dan TOGA: Mangga, pisang kepok, pepaya, jahe, kunyit, sereh. TOGA dijadikan sebagai bahan baku untuk jamu dan kesehatan rumah tangga.
– pakan mandiri: Tanam indigofera, azolla, dan maggot BSF dapat menekan biaya pakan ayam/ikan hingga 30-40%.
3. Peluang ekonomi nyata
– Ketahanan pangan keluarga: 1 pekarangan 200m² bisa memenuhi kebutuhan sayur 4-5 orang, telur 10-15 butir/hari.
– Pendapatan tambahan:Penjualan cabai, tomat, lele/nila konsumsi ke tetangga atau via WhatsApp grup dan platform media sosial lainnya dapat menghasilkan Rp1-3 juta/bulan tanpa modal besar.
– Nilai tambah: Olahan kunyit menjadi kunyit bubuk, pisang jadi keripik. Harga jualnya bisa naik 2-3x lipat.
4. Tantangan dan solusinya
– Air saat kemarau: Solusi: membbuat sumur resapan, tandon dan mulsa untuk hemat air.
– Hama penyakit: Menggunakan pestisida nabati dari daun mimba/serai yang banyak tumbuh liar di Takalar.
– Pemasaran: Dapat memanfaatkan Kelompok Wanita Tani (KWT) desa, melalui platform media sosial, atau dapat menitipkannya ke warung sayur keliling.
5. Dukungan yang bisa dimanfaatkan
Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Takalar, BPP kecamatan, dan program P2L Pekarangan Pangan Lestari sering berbagi bibit gratis dan pelatihan. Bank sampah dan pupuk organik juga mulai berkembang di beberapa desa.
Intinya: pertanian terpadu rumahan di Takalar bukan cuma “hobi menanam”. Dengan integrasi yang tepat, pekarangan kecil dapat menjadi sumber pangan, menghemat pengeluaran, sekaligus usaha mikro. Pertanian Terpadu skala rumahan ini, merupakan upaya nyata bagi warga untuk ketahanan pangan.
Pattallassang, 22 Juni 2026