160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT


Pemkab Takalar Kukuhkan 220 Duta TBC, Perkuat Gerakan Assamaturu Bebas TBC

 

Takalar,Pedomanku, id

Pemerintah Kabupaten Takalar terus menunjukkan komitmennya dalam menekan angka Tuberkulosis (TBC) melalui peluncuran program inovatif Assamaturu Bebas TBC (Aksi Sistematis Bebaskan TBC). Inisiatif ini digagas oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Takalar, dr. Hj. Nilal Fauziah, M.Kes, sebagai bagian dari proyek perubahan dalam Pelatihan Kepemimpinan Nasional.

Peluncuran program berlangsung di Ruang Pola Kantor Bupati Takalar, Rabu (17/6/2026), yang dirangkaikan dengan pengukuhan 110 Duta Assamaturu Bebas TBC oleh Bupati Takalar. Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Forkopimda, pimpinan OPD, camat, lurah, kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi profesi kesehatan, pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan, serta berbagai unsur masyarakat.

Dalam sambutannya, dr. Hj. Nilal Fauziah menjelaskan bahwa Assamaturu merupakan gerakan bersama yang mengedepankan kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat pencapaian target eliminasi TBC di Kabupaten Takalar pada tahun 2030.

Menurutnya, kata “Assamaturu” yang berasal dari bahasa Makassar memiliki makna bergerak bersama menuju tujuan yang sama. Semangat tersebut menjadi landasan dalam menyatukan komitmen seluruh elemen masyarakat untuk menciptakan Takalar yang bebas dari TBC.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Takalar, jumlah estimasi kasus TBC pada tahun 2025 mencapai 1.247 kasus. Meskipun capaian penemuan kasus telah berada pada angka 78 persen dan keberhasilan pengobatan mencapai 89 persen, masih terdapat sejumlah tantangan yang memerlukan perhatian bersama. Tantangan tersebut antara lain rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri ketika mengalami gejala, stigma terhadap penderita TBC, serta masih adanya pasien yang tidak menyelesaikan pengobatan hingga tuntas.

Melalui program Assamaturu Bebas TBC, Pemkab Takalar menerapkan pendekatan kolaboratif berbasis Heptahelix yang melibatkan unsur pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, tokoh agama, dan tokoh adat. Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat upaya pencegahan, deteksi dini, hingga pendampingan pasien TBC. (Amir tata).

Facebook Comments Box

Baca Juga