Wakil Ketua III BAZNAS, H. Ahyar Amnur : Alhamdulillah Hujan, Meski Butiran Kecil

Makassar, Pedomanku, id:

Langit Kota Makassar beberapa bulan terakhir tampak garang, dan berawan kelabu tipis, akhirnya luluh juga. Senin, 26 Oktober petang tadi, pertama kali hujan mulai turun, meski masih dalam butiran kecil, dan tidak berlangsung lama.

“Masya Allah, hujan. Ya Allah, semoga berkah ya Allah. Hujan di Jalan Sultan Alauddin, dekat kantor BAZNAS. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Allahuumma Shoyyiban Naafi’aan. Semoga berkah ya Allah. Allahumma.. ya Allah, turunkan hujan yang bermanfaat,” demikian penggalan kalimat yang tiba tiba meluncur dari Wakil Ketua III BAZNAS Kota Makassar, H. Ahyar Amnur, S.Pd, M.Pd.

Pernyataan sepintas Wakil Ketua Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Pelaporan saat menyaksikan butir butir air hujan pertama menyentuh bumi, di saat matahari sore masih membiaskan warna jingga tersebut, kemudian diunggah di grup WA BAZNAS Kota Makassar periode 2026-2031.

Pasalnya, selama berbulan-bulan lamanya, Makassar khususnya, dan Sulawesi Selatan umumnya seolah menahan napas. Langit membentang tanpa belas kasih, menyiramkan terik yang membakar rumput hingga menguning, memecahkan tanah di berbagai daerah, dan memicu kekeringan, hingga kebakaran. Begitu pula sumur-sumur warga mengering, termasuk debu jalanan beterbangan menyiksa pernapasan.

Kemudian, Senin petang hari ini, langit pun kelabu, sesekali terdengar bunyi bunyian alam meski dalam tekanan rendah. Tak lama kemudian butir-butir air jatuh. Meski tidak deras, dan  belum menghapus dahaga bumi, namun  H. Ahyar Amnur berdoa, kiranya Allah menjaga Kota Makassar, menjaga Indonesia, menjaga negeri negeri kaum muslimin, dari ajab, bala, penyakit, hingga musibah gempa bumi.

Alumni Universitas Negeri Makassar (UNM) ini mengakui, meski belum lebat, namun hujan perdana sebagai sebuah siklus keadilan ilahi.

“Hujan pertama setelah kemarau panjang mengajarkan kita bahwa, setelah kesulitan yang panjang, selalu ada kesiapan untuk bangkit. Dan, tentunya, di balik setiap tetes air hujan yang diiturunkan tuhan ke bumi, salah satunya menyuburkan tanah. Dan, meski hujan deras nantinya,  titipan amanah umat, melalui zakat, infak, dan sedekah tetap disalurkan kepada mustahik,” urainya.

Pria kelahiran Oktober 1982 ini mengemukakan, jika melihat dari kacamata BAZNAS, hujan pertama bukan sekadar peristiwa meteorologis, melainkan manifestasi teologis, alarm kemanusiaan, sekaligus momentum kebangkitan sosial. Karena itulah, lembaga pemerintah nonstruktural yang membersamai denyut nadi kaum dhuafa–orang membutuhkan bantuan setidaknya memandang tetes-tetes air pertama yang membasahi bumi setelah kemarau panjang merupakan bukti maha kasih sayangnya Allah. Kemudian tanda berakhirnya darurat kemanusiaan, transformasi program, hingga refleksi solidaritas sosial dan lingkungan.

Seperti diketahui, belum lama ini, BAZNAS Makassar menyediakan sumber sumber air bersih bagi warga yang terkena kekeringan air. Salah satunya di Kelurahan Buloa, Kecamatan Tallo. Menariknya sumber air bersih dari BAZNAS Makassar kepada warga di Lorong Salekoa, RT 2/RW 3 yang dihuni 80 Kepala Keluarga, dnegan jumkah jiwa 281 orang itu diresmikan oleh Wakil Ketua BAZNAS-RI Hj. Saidah Sakwan, Selasa, 22 September 2026.

Hadir pada peresmian itu Ketua BAZNAS Makassar-Dr.H. Usman Sofian, MA, Wakil Ketua II–Dr. Abdul Azis Ilyas,MH, serta Wakil Ketua IV–Prof.Dr. Yusriani, S.KM. M.Kes, Sekcam Tallo, ketua ketua RW/RT serta Ketua LPM Tallo, dan warga setempat. (din pattisahusiwa/tim media banzas makassar)

Facebook Comments Box
You might also like