Makassar, Pedomanku,id:
Tradisi Maulid, dengan hiasan bakul telur, nasi ketan, dan ayam adalah hal biasa. Namun, jika melangkah ke kantong-kantong permukiman masyarakat perantau asal Maluku—khususnya dari Pulau Ambon dan pulau-pulau Lease, lebih khusus Desa Siri Sori Islam, akan menemukan warna lain dari perayaan hari lahir Nabi Ummat Muslim itu.
Maulid tidak semata ritual keagamaan, melainkan sebuah ruang temu rindu, dan manifestasi identitas, di tanah rantau. Dan, tentunya bagi muslim Maluku di kota yang kini dipimpin Walikota Munafri Arifuddin dan Wakil Walikota Aliyah Mustika Ilham ini Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar perayaan kalender Hijriah. Ia adalah sebuah ritual rindu, jembatan emosional yang merajut kembali serpihan-serpihan kampung halaman yang tertinggal di seberang lautan. Di perantauan, tradisi adalah rumah yang bisa dibawa kemana-mana.
Itulah mengapa, masyaraat Siri Sori Islam, dan umumnya Maluku, merantau adalah takdir kultural. Istilah “orang Maluku manise” melekat dengan karakter yang ramah, hingga memiliki ikatan komunal yang sangat erat. Dan, ketika bulan Maulid tiba, jarak geografis antara Maluku dan Makassar seolah runtuh dengan alunan rebana, dan gema salawat yang dilantunkan dengan cengkok khas Maluku.

Selasa, 25 Agustus hari ini misalnya, meski jumlahnya sedikit, namun warga Siri Sori Islam di Kota Makassar menggelar Maulid Nabi dirangkaikan arisan Ikatan Keluarga Siri Sori Islam, atau bahasa kerennya IKASSI Makassar, di rumah Oma Hj. St. Hajar Sanaky di BTN Minasaupa, Blok F4 No 19, Kelurahan Minasaupa, Kecamatan Rapoccini.
Maulid ini juga diiringi dengan pembacaan Barzanji yang dibawakan dengan ritme rebana yang dinamis, penuh energi, namun tetap khusyuk. Suara-suara serak basah khas pesisir Maluku berpadu dengan harmoni vokal yang natural.
Saat menabuh rebana, getarannya seperti berada di kampung halaman. Rindu pada kampung halaman di jazirah Tenggara tanah Lease, rindu pada tiupan angin Maluku, dan rindu pada suasana Maulid di Desa Siri Sori Islam. Karenanya, di setiap bait salawat yang menggema, Maluku, dengan segala keindahannya, seakan hadir dengan utuh.
Jika ditarik lebih dalam melalui lensa budaya Maluku, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dalam perayaan Maulid, sebenarnya adalah cerminan dari karakter dasar orang Maluku itu sendiri. Cinta damai, dan menjunjung tinggi kasih sayang.
Di tanah Makassar, di bawah langit rantau yang panas, para perantau Maluku ingin membuktikan bahwa, budaya tidak pernah mati hanya karena dibawa pergi. Justru hidup, beradaptasi, dan berakar semakin kuat.
Karenanya, melalui Maulid Nabi, mereka tidak hanya merayakan hari lahir Sang Rasul, tetapi juga merayakan eksistensi mereka sendiri. Bahwa, mereka ada, mereka hidup, dan mereka tetap manise meski jauh dari tanah leluhur. Maluku. (din pattisahusiwa)