Oleh: Zaenuddin Endy
Koordinator LTN JATMAN Sulawesi Selatan
Dalam kehidupan modern yang sering dipenuhi kompetisi, manusia kerap memaknai ketinggian sebagai simbol keberhasilan. Jabatan, kekuasaan, popularitas, dan pengaruh sosial sering dianggap sebagai tanda bahwa seseorang telah “melangit.” Namun dalam tradisi kebijaksanaan spiritual, ketinggian sejati justru lahir dari sikap yang tampak sederhana: membumi. Membumi berarti bersedia merendahkan diri, dekat dengan realitas kehidupan, dan tidak terjebak dalam ilusi keagungan diri.
Membumi pada hakikatnya adalah kesadaran bahwa manusia berasal dari tanah. Dalam perspektif teologis, asal-usul manusia dari tanah mengandung pesan moral tentang kerendahan hati. Tanah tidak pernah memilih siapa yang menginjaknya, tidak pernah memprotes siapa yang memanfaatkannya. Ia tetap diam, namun darinyalah kehidupan tumbuh. Karena itu, ketika manusia belajar membumi, sesungguhnya ia sedang meneladani sifat kesabaran dan ketulusan alam.
Di tengah budaya yang memuja pencitraan, sikap membumi sering dianggap sebagai kelemahan. Banyak orang lebih suka terlihat hebat daripada benar-benar menjadi pribadi yang bermanfaat. Padahal, sejarah peradaban menunjukkan bahwa tokoh-tokoh besar justru dikenal karena kerendahan hatinya. Mereka tidak menjadikan ketinggian sebagai alat untuk meninggikan diri, tetapi sebagai sarana untuk mengabdi kepada sesama.
Dalam dimensi spiritual, membumi adalah pintu menuju kedalaman batin. Orang yang membumi tidak terjebak pada kesombongan intelektual, tidak pula larut dalam keangkuhan moral. Ia sadar bahwa pengetahuan, kekuasaan, dan prestasi hanyalah titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali. Kesadaran semacam ini membuat seseorang lebih tenang dalam menjalani hidup.
Ketika seseorang membumi, ia mulai memahami bahwa hidup bukan sekadar tentang menjadi lebih tinggi dari orang lain. Hidup adalah tentang menjadi lebih bermakna bagi orang lain. Ketinggian yang tidak disertai makna hanyalah menara kosong yang suatu saat akan runtuh oleh waktu.
Membumi juga berarti bersedia mendengar. Banyak konflik sosial lahir karena manusia kehilangan kemampuan untuk mendengar dengan tulus. Ketika seseorang merasa lebih tinggi, ia cenderung mengabaikan suara orang lain. Sebaliknya, orang yang membumi membuka ruang dialog dan menghargai pengalaman hidup sesama.
Dalam tradisi tasawuf, perjalanan spiritual sering digambarkan sebagai perjalanan menuruni ego sebelum menaiki makrifat. Seseorang tidak akan mencapai kedekatan dengan Tuhan jika ia masih dipenuhi kesombongan. Kerendahan hati menjadi syarat awal bagi perjalanan menuju kedalaman ruhani.
Paradoksnya, semakin seseorang membumi, semakin ia dihormati. Penghormatan yang lahir dari ketulusan berbeda dengan pujian yang lahir dari kepentingan. Orang yang rendah hati tidak mengejar penghargaan, tetapi penghargaan justru datang kepadanya.
Membumi juga menumbuhkan empati sosial. Seseorang yang dekat dengan realitas kehidupan masyarakat akan lebih peka terhadap penderitaan orang lain. Ia tidak hidup dalam menara gading, tetapi berjalan bersama kehidupan yang nyata. Dari situlah lahir tindakan-tindakan yang membawa perubahan.
Ketinggian moral tidak dibangun dari klaim, melainkan dari praktik kehidupan sehari-hari. Seseorang yang membumi tidak merasa perlu mengumumkan kebaikannya. Ia melakukan kebaikan karena itu adalah panggilan hati, bukan karena ingin dilihat.
Dalam dunia intelektual pun, membumi memiliki makna penting. Ilmu pengetahuan yang tidak membumi akan kehilangan relevansi sosial. Ia mungkin tinggi secara teoritis, tetapi jauh dari kebutuhan masyarakat. Karena itu, ilmuwan yang membumi adalah mereka yang mampu menghubungkan pengetahuan dengan kemaslahatan.
Sikap membumi juga mengajarkan kesabaran. Tanah tidak pernah tergesa-gesa, tetapi darinya tumbuh pohon yang tinggi. Kesabaran semacam ini mengajarkan bahwa pertumbuhan sejati memerlukan waktu dan ketekunan.
Di tengah kehidupan yang serba cepat, membumi menjadi bentuk perlawanan terhadap kesombongan zaman. Ia mengingatkan manusia bahwa segala sesuatu pada akhirnya akan kembali ke tanah. Kesadaran ini membuat seseorang lebih bijaksana dalam memandang kehidupan.
Membumi bukan berarti kehilangan cita-cita. Justru sebaliknya, ia memberikan fondasi yang kokoh bagi cita-cita yang tinggi. Seperti pohon yang menjulang ke langit, akarnya harus terlebih dahulu menancap kuat di tanah.
Dengan demikian, membumi sebenarnya adalah jalan menuju ketinggian yang sejati. Ia bukan penurunan martabat, melainkan proses pemurnian jiwa. Orang yang membumi tidak kehilangan kehormatan, tetapi menemukan makna yang lebih dalam tentang kehormatan itu sendiri.
Manusia yang membumi sedang menapaki tangga menuju langit makna. Ia tidak berteriak tentang kehebatannya, tetapi membiarkan kehidupannya berbicara. Dalam keheningan kerendahan hati, ia justru mencapai ketinggian yang tidak mudah dicapai oleh kesombongan.
Karena itu, ketika seseorang benar-benar membumi dan dekat dengan realitas kehidupan, maka pada saat itulah ia sesungguhnya sedang melangit. Sebab ketinggian spiritual tidak pernah lahir dari kesombongan, melainkan dari kerendahan hati yang jernih.