160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT


PMII dan Tantangan Aswaja NU

 

Zaenuddin Endy
Wakil Sekretaris PW IKA PMII Sulawesi Selatan

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sejak awal kelahirannya memiliki hubungan historis, ideologis, dan kultural yang sangat erat dengan Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi ini tidak hanya menjadi wadah pengembangan intelektual mahasiswa, tetapi juga diproyeksikan sebagai ruang kaderisasi yang akan melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan NU. Dari rahim PMII diharapkan lahir ulama, akademisi, birokrat, politisi, pengusaha, dan aktivis yang memiliki komitmen kuat terhadap nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.

Sebagai calon pemimpin masa depan NU, kader PMII sejatinya memiliki pemahaman yang baik mengenai Aswaja NU. Pemahaman tersebut bukan sekadar pengetahuan teoritis tentang sejarah dan doktrin keagamaan, melainkan juga kesadaran ideologis yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Aswaja NU merupakan fondasi yang membedakan NU dari berbagai kelompok dan aliran keagamaan lainnya.

Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa harapan tersebut belum sepenuhnya terwujud. Tidak sedikit kader PMII yang aktif dalam berbagai kegiatan organisasi, tetapi memiliki pemahaman yang terbatas mengenai Aswaja NU. Bahkan ada yang mengenal istilah Aswaja hanya sebagai materi formal dalam kaderisasi tanpa memahami substansi dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Fenomena ini tentu menjadi perhatian bersama. Sebab seorang kader yang kelak akan memimpin organisasi NU membutuhkan fondasi ideologis yang kuat. Tanpa pemahaman Aswaja yang memadai, kader berpotensi kehilangan arah dalam menjalankan peran kepemimpinannya. Mereka mungkin memiliki kemampuan manajerial yang baik, tetapi tidak memiliki pijakan nilai yang menjadi ciri khas perjuangan NU.

Salah satu penyebab kondisi tersebut adalah perubahan orientasi sebagian kaderisasi yang lebih menekankan aspek teknis organisasi dibandingkan pendalaman ideologi. Pelatihan kepemimpinan, manajemen organisasi, dan advokasi sosial memang penting, tetapi tidak boleh mengurangi perhatian terhadap penguatan pemahaman Aswaja NU sebagai ruh gerakan.

Di sisi lain, perkembangan teknologi informasi juga memberikan tantangan tersendiri. Kader PMII hidup di tengah derasnya arus informasi yang datang dari berbagai sumber. Tidak semua informasi tersebut selaras dengan nilai-nilai Aswaja NU. Akibatnya, sebagian kader lebih mengenal pemikiran tokoh-tokoh luar daripada memahami khazanah ulama NU yang kaya dan mendalam.

Padahal Aswaja NU bukan sekadar identitas organisasi. Aswaja merupakan manhaj al-fikr atau metode berpikir yang menekankan keseimbangan, moderasi, toleransi, dan keadilan. Nilai-nilai seperti tawassuth, tasamuh, tawazun, dan i’tidal menjadi prinsip dasar yang seharusnya melekat dalam karakter setiap kader PMII.

Pemahaman terhadap Aswaja NU juga penting untuk membangun ketahanan ideologi kader. Dalam kehidupan kampus, kader PMII akan berhadapan dengan beragam pandangan keagamaan, sosial, dan politik. Tanpa pemahaman yang kuat, mereka dapat dengan mudah terpengaruh oleh pemikiran yang bertentangan dengan tradisi keilmuan dan keagamaan NU.

Lebih dari itu, Aswaja NU mengajarkan pentingnya menghormati perbedaan. Tradisi ini telah menjadi kekuatan utama NU dalam menjaga kerukunan umat dan keutuhan bangsa. Kader PMII yang memahami Aswaja akan mampu menjadi agen perdamaian serta jembatan dialog di tengah masyarakat yang semakin plural dan kompleks.

Karena itu, pembinaan khusus mengenai Aswaja NU menjadi kebutuhan yang mendesak. Pembinaan tersebut tidak boleh berhenti pada kegiatan kaderisasi formal semata. Diperlukan program berkelanjutan yang mampu memperdalam pemahaman kader terhadap sejarah, pemikiran, tradisi, dan praktik Aswaja NU.

Pembinaan dapat dilakukan melalui halaqah, diskusi rutin, kajian kitab, sekolah Aswaja, hingga pendampingan oleh para kiai dan ulama. Melalui pendekatan seperti ini, kader tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mendapatkan keteladanan langsung dari para pewaris tradisi keilmuan NU.

Selain itu, kader perlu diperkenalkan secara lebih intensif kepada karya-karya ulama NU. Pemikiran para tokoh seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Chasbullah, KH. Bisri Musthofa, KH. Ali Yafie , dan tokoh NU lainnya harus menjadi bagian penting dari proses kaderisasi intelektual PMII. Dengan demikian, kader memiliki rujukan yang jelas dalam memahami Islam ala NU.

Penguatan Aswaja juga perlu diwujudkan melalui praktik kehidupan sehari-hari. Kader PMII harus belajar menerapkan nilai tawadhu, menghormati guru, menghargai perbedaan pendapat, serta membiasakan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan. Nilai-nilai tersebut merupakan manifestasi nyata dari ajaran Aswaja NU.

Tidak kalah penting adalah membangun budaya organisasi yang mencerminkan karakter Aswaja. Setiap kegiatan PMII seharusnya menjadi ruang pembelajaran untuk menginternalisasikan nilai moderasi, persaudaraan, dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan cara ini, Aswaja tidak hanya menjadi slogan, tetapi menjadi budaya yang hidup dalam organisasi.

Keberhasilan pembinaan Aswaja dapat diukur dari lahirnya kader yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kematangan spiritual, dan kepedulian sosial. Kader seperti inilah yang dibutuhkan NU untuk menghadapi berbagai tantangan zaman, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global.

Apabila pembinaan Aswaja diabaikan, maka PMII berisiko kehilangan salah satu identitas terpentingnya. Organisasi mungkin tetap berkembang secara kuantitatif, tetapi kehilangan ruh yang selama ini menjadi kekuatan dan pembeda PMII dalam dunia kemahasiswaan Indonesia.

Sebaliknya, apabila penguatan Aswaja dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan, PMII akan mampu melahirkan kader-kader yang tidak hanya cerdas dan kritis, tetapi juga berakar kuat pada tradisi keilmuan dan nilai-nilai NU. Mereka akan menjadi generasi penerus yang mampu menjaga marwah organisasi sekaligus menjawab tantangan zaman dengan bijaksana.

Akhirnya, masa depan NU sangat bergantung pada kualitas kaderisasi yang dilakukan hari ini. PMII sebagai salah satu lumbung kader NU memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa setiap kader tidak hanya mengenal Aswaja NU secara teoritis, tetapi juga menghayati dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dari kader yang memahami Aswaja secara utuh itulah akan lahir pemimpin-pemimpin NU yang mampu menjaga tradisi, merawat persatuan, dan mengabdi untuk umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Facebook Comments Box

Baca Juga