Zaenuddin Endy
Komunitas Pecinta Indonesia, Nusantara, dan Ulama (KOPINU)
Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 merupakan momentum penting dalam menentukan arah perjalanan organisasi ke depan. Lebih dari sekadar memilih seorang Ketua Umum, muktamar adalah ikhtiar jam’iyah untuk menghadirkan kepemimpinan yang mampu menjaga persatuan, merawat tradisi, dan memperkuat khidmah kepada umat, bangsa, dan negara. Karena itu, yang dibutuhkan bukanlah sosok yang gemar mempertajam perbedaan, melainkan pemimpin yang mampu menjadi penyejuk di tengah beragam pandangan.
NU lahir dan tumbuh di atas fondasi ukhuwah, musyawarah, dan kebijaksanaan para ulama. Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar dalam organisasi sebesar
NU. Namun, perbedaan itu semestinya menjadi kekuatan yang memperkaya pemikiran, bukan menjadi pemicu perpecahan. Di sinilah kualitas seorang pemimpin diuji: mampu merangkul, mendengarkan, dan menghadirkan solusi yang mempersatukan.
Pemimpin NU harus menjadi pendamai. Ia hadir sebagai perekat antargenerasi, antarwilayah, dan antarkelompok yang memiliki cara pandang berbeda. Kepemimpinan yang menenangkan akan membuat seluruh warga NU merasa memiliki ruang yang sama untuk berkhidmah tanpa rasa curiga dan tanpa sekat-sekat yang melemahkan persaudaraan.
Sebaliknya, kepemimpinan yang dibangun di atas konflik, polarisasi, dan saling menjatuhkan hanya akan menguras energi organisasi. NU memiliki tantangan besar dalam bidang pendidikan, dakwah, pemberdayaan ekonomi, penguatan pesantren, serta pengabdian sosial. Energi organisasi semestinya diarahkan untuk menjawab tantangan tersebut, bukan habis karena pertentangan internal.
Sejarah NU menunjukkan bahwa para muassis dan masyayikh selalu mengedepankan adab sebelum ambisi. Mereka mengajarkan bahwa jabatan bukanlah tujuan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Karena itu, siapa pun yang diberi amanah memimpin NU hendaknya memandang kepemimpinan sebagai ladang pengabdian, bukan sebagai ruang untuk mempertontonkan kekuasaan.
Yang dibutuhkan NU adalah pemimpin yang tulus berkhidmah. Ketulusan melahirkan keikhlasan dalam bekerja, kesabaran dalam menghadapi kritik, dan kebesaran hati dalam menerima perbedaan. Pemimpin yang ikhlas tidak sibuk membangun citra dirinya, tetapi lebih fokus membangun kemaslahatan organisasi.
Marwah NU merupakan warisan yang dibangun dengan pengorbanan para ulama selama hampir satu abad lebih. Marwah itu harus dijaga melalui keteladanan, kesederhanaan, akhlak yang mulia, dan komitmen terhadap nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang membuat marwah NU semakin dihormati oleh umat dan bangsa.
Muktamar juga menjadi momentum untuk memperkuat budaya musyawarah. Perbedaan pilihan adalah bagian dari dinamika organisasi, tetapi setelah keputusan diambil, seluruh warga NU kembali bersatu dalam satu barisan untuk mengawal hasil muktamar. Tradisi inilah yang selama ini menjadi kekuatan utama NU dalam menjaga soliditas organisasi.
Sudah saatnya seluruh warga NU menempatkan persaudaraan di atas kepentingan sesaat. Jabatan akan berganti, tetapi persaudaraan harus tetap abadi. Ketua Umum boleh berganti, namun NU harus tetap menjadi rumah besar yang nyaman bagi seluruh warganya.
Pemimpin yang penyejuk bukan berarti lemah.
Justru ia memiliki keberanian mengambil keputusan dengan bijaksana, tanpa menyakiti dan tanpa memperuncing perbedaan. Ketegasan yang dibingkai dengan kebijaksanaan akan menghadirkan kepercayaan dan ketenteraman di tengah organisasi.
Masyarakat menaruh harapan besar kepada NU sebagai penjaga Islam yang ramah, moderat, dan membawa rahmat bagi semesta. Harapan tersebut hanya dapat dijaga apabila NU dipimpin oleh sosok yang mampu menjadi teladan dalam ucapan, tindakan, dan kebijakan.
Muktamar NU ke-35 bukan sekadar memilih seorang pemimpin. Muktamar adalah ikhtiar bersama untuk menghadirkan kepemimpinan yang mampu merawat persatuan, menguatkan khidmah, menjaga marwah organisasi, serta meneruskan perjuangan para ulama pendiri dengan penuh amanah.
Semoga Muktamar NU ke-35 melahirkan pemimpin yang menenangkan ketika terjadi perbedaan, mendamaikan ketika muncul perselisihan, merangkul ketika ada jarak, serta tulus berkhidmah demi kemajuan Nahdlatul Ulama. Sebab NU akan semakin besar bukan karena kerasnya persaingan, melainkan karena kuatnya persaudaraan, kokohnya persatuan, dan keikhlasan dalam mengabdi.
Wallahu A’lam Bissawab