Ahyar Amnur dan Ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah KH.Muhammad Zaitun Rasmin, Lc.MA
Jakarta, Pedomanku,id:
Perhelatan Muktamar V Wahdah Islamiyah dengan penuh khidmat, dan mengedepankan nilai nilai musyawarah mufakat, mengambil keputusan kepada KH. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc, MA menakhkodai kembali Ormas keagamaan ini lima tahun ke depan (2026-2031).
Kepercayaan dan amanah yang diberikan kepada cendekiawan, ulama, dan pendakwah kelahiran Gorontalo, 24 Desember 1966 ini, tidaklah semata soal kepemimpinan, melainkan cerminan dari kuatnya rasa cinta, kepercayaan, dan kebutuhan figur yang telah teruji.
Alasan peserta muktamar V jelas. Di bawah komando KH. Muhammad Zaitun Rasmin sebelumnya, Wahdah Islamiyah telah bertransformasi menjadi salah satu Ormas Islam yang paling disegani, dan masif perkembangannya di tanah air.
Ahyar Amnur salah seorang peserta muktamar dari Sulawesi Selatan misalnya mengemukakan, meski Muktamar V telah usai dengan penetapan Ketua Umum DPP, namun kerja besar baru saja dimulai. Di bawah kepemimpinan yang istiqamah, umat menaruh harapan besar agar Wahdah Islamiyah terus menjadi pelita, sekaligus cahaya menyejukkan, dan membawa kemaslahatan nyata bagi bangsa Indonesia, dan dunia Islam secara luas.
Alasannya jelas. Wahdah Islamiyah, merupakan Ormas Islam demikian rutin bergerak dari masjid ke masjid, merambah dunia pendidikan dari tingkat dasar, hingga perguruan tinggi. Bukan hanya itu, organisasi yang awalnya bernama Yayasan Fathul Muin (didirikan pada 18 Juni 1988, dan berubah nama menjadi Yayasan Wahdah Islamiyah pada 19 Februari 1989, serta resmi berstatus sebagai Ormas tingkat nasional sejak tahun 2002) ini jelas membutuhkan pemimpin sekaliber dia.
“Kita ketahui bersama bahwa, menahkodai Ormas Islam sebesar Wahdah Islamiyah di era berkemajuan saat ini, tentulah bukan hal mudah. Kita juga ketahui bahwa, tantangan zaman bergerak begitu cepat, diwarnai disrupsi teknologi, pergeseran moral generasi muda, hingga kompleksitas masalah sosial-politik umat. Di sinilah letak kelebihannya. Beliau paling layak, paling siap, teruji, dan tentunya punya kemampuan yang belum tertandingi,” tutur Ahyar Amnur, Senin, 24 Agustus 2026.
Di sisi lain, jelas alumni Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar (UNM) ini, tokoh yang pernah memimpin Persatuan Pemuda Muslim se-Sulawesi Selatan itu dikenal sebagai ulama yang tidak hanya fasih dalam dalil-dalil keagamaan, melainkan punya kepekaan sosial yang tinggi, dan pandangan strategisnya cukup mapan.
Kepemimpinannya dikenal mengedepankan prinsip wasathiyah (moderat), namun tetap teguh pada prinsip-prinsip akidah. Kombinasi antara kedalaman ilmu syar’i dan keterampilan manajerial modern inilah yang membuat Wahdah Islamiyah tetap kokoh dan terus berekspansi secara positif hingga saat ini.
Ahyar Amnur yang juga Wakil Ketua III Bidang Perencanaan, Pelaporan, dan Keuangan BAZNAS Kota Makassar itu mengaku, terpilihnya kembali Wakil Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri MUI Pusat sampai 2015, dan Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat 2015-2020 memimpin Wahdah Islamiyah membawa angin segar bagi kerinduan program-program unggulan yang telah dirintis.
“Fokus pada pembinaan kader, penguatan lembaga pendidikan, pelebaran sayap dakwah digital, serta penguatan ekonomi umat dipastikan akan semakin digalakkan,” urainya, seraya menambahkan, selain itu, kiprah nasional, hingga internasional—terutama melalui perannya dalam berbagai forum ukhuwah Islamiyah dan pembelaan terhadap isu-isu kemanusiaan global seperti Palestina—memberikan nilai tambah yang besar.
Sebelum menutup komentarnya, Ahyar tak luput mengucapkan “Selamat dan sukses kepada KH Muhammad Zaitun Rasmin, memimpin kembali kapal besar Wahdah Islamiyah mengarungi samudra dakwah yang maha luas. (din pattisahusiwa)