Jakarta, Pedomanku,id:
Di tengah tengah era berkemajuan saat ini, tentunya dibarengi dinamika yang bergerak cepat pula. Meski begitu, ada kekhawatiran, era ini dapat menggerus nilai-nilai spiritual. Menjawab tantangan ini, sebuah gerakan besar, lahir dari bumi pertiwi, Indonesia. Wahdah Islamiyah melalui perhelatan akbar, Muktamar V akan menorehkan tinta emas dalam sejarah dakwah dan pendidikan Islam. Yaitu, menamatkan 10.000 guru mengaji, Sabtu, 22 Agustus hari ini.
H. Ahyar Amnur, S.Pd, M.Pd, Pengurus Wahdah Islamiyah mengemukakan, Muktamar V bertemakan “Harmoni untuk Indonesia berkah, bersama membangun peradaban Islam yang rahmatan lil alamin di Nusantara” itu tidak semata ajang konsolidasi organisasi atau pemilihan kepemimpinan lima tahunan, namun menjelma menjadi sebuah milestone peradaban.
“Muktamar V di Jakarta ini juga akan menggetarkan hati, sekaligus membakar semangat ummat, lantaran dilakukan penamatan bagi 10.000 guru mengaji,” tuturnya.

H. Ahyar Amnur
H.Ahyar Amnur mengakui, setidaknya, para guru mengaji tersebut tidak semata deretan digit statistic, melainkan merupakan representasi dari sepuluh ribu pasang tangan yang siap membimbing umat Islam. Tugas mereka di antaranya, meluruskan bacaan kitab suci Al-Qur’an.
Mengapa Ormas Islam yang berdiri pada 18 Juni 1988 dan bergerak di bidang dakwah, pendidikan, sosial dan ekonomi, dengan mengusung prinsip moderasi beragama, atau Wasathitan Islam ini melalui 10.000 guru yang mengakafkan diri untuk menjaga kemurnian, serta kecintaan terhadap Al-Qur’an? H. Ahyar Amnur mengemukakan, tidak terlepas dari ketersediaan guru mengaji bersertifikasi dengan jumlah ummat Islam kurang berimbang.
Mantan Biro Humas DPP Wahdah Islamiah ini mengharapkan, dengan dikukuhkannya 10.000 guru Al-Qur’an ini, dapat ber-DAMPAK kepada kaum muslimin. Misalnya saja, satu guru membimbing 10 orang santri, berarti, ratusan ribu, bahkan jutaan ummat Islam tersentuh cahaya Al-Qur’an. Rumah-rumah akan kembali bergemerincing dengan lantunan ayat suci, dan generasi muda akan tumbuh dengan kompas moral dan berakhlak MULIA.
Apalagi, mereka telah digembleng melalui metode-metode pembelajaran kontemporer yang sistematis.
“Sekadar diketahui, guru Al-Qur’an ini tidaklah orang sembarangan. Mereka telah didik melewati proses seleksi, pelatihan intensif, dan uji kompetensi. Mereka adalah pahlawan tanpa medali gemerlap, namun jasanya terukir abadi di langit. Makanya, mereka dipersiapkan untuk disebar ke berbagai penjuru tanah air, mulai dari kota hingga desa terpencil,” kunci Wakil Ketua III Bidang Perencanaan, Pelaporan, dan Keuangan BAZNAS Kota Makassar ini. (din pattisahusiwa)