160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT


Banyaknya Calon Ketua Umum PBNU Patut Disyukuri

 

Zaenuddin Endy
Komunitas Pecinta Indonesia, Nusantara, dan Ulama (KOPINU)

Menjelang Muktamar NU ke-35, ruang-ruang diskusi warga Nahdlatul Ulama semakin hidup. Berbagai nama bermunculan sebagai calon Ketua Umum PBNU. Fenomena ini merupakan sesuatu yang wajar dalam organisasi sebesar NU yang telah memasuki abad keduanya. Banyaknya tokoh yang disebut-sebut layak memimpin menunjukkan bahwa NU tidak pernah kekurangan kader yang memiliki kapasitas, integritas, pengalaman, dan dedikasi dalam berkhidmah.

Banyaknya calon yang maju semestinya tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai anugerah yang patut disyukuri. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu melahirkan banyak kader pemimpin. Sebaliknya, organisasi yang hanya bergantung pada satu atau dua figur justru menghadapi persoalan serius dalam proses regenerasi.

NU selama ini memiliki sistem kaderisasi yang panjang melalui pesantren, badan otonom, lembaga, serta berbagai ruang pengabdian di tingkat ranting hingga pusat. Karena itu, lahirnya banyak kandidat merupakan buah dari proses kaderisasi yang berlangsung selama puluhan bahkan ratusan tahun. Mereka adalah putra-putra terbaik NU yang sama-sama memiliki kecintaan kepada jam’iyah.

Perbedaan pilihan adalah sesuatu yang alamiah. Setiap muktamirin tentu memiliki pertimbangan masing-masing dalam menentukan sosok yang dianggap paling tepat memimpin PBNU. Namun, perbedaan pilihan tidak boleh berubah menjadi permusuhan. Muktamar bukanlah arena memutus ukhuwah, melainkan forum musyawarah untuk memilih pemimpin terbaik bagi kemaslahatan organisasi.

Budaya saling menjatuhkan, menyebarkan fitnah, atau membangun polarisasi tidak sejalan dengan akhlak Ahlussunnah wal Jamaah. Warga NU telah diwarisi tradisi tabayyun, tawassuth, tasamuh, tawazun, dan amar makruf nahy mungkar. Nilai-nilai inilah yang semestinya menjadi pedoman dalam menyambut Muktamar NU ke-35.

Setiap kandidat memiliki kelebihan dan pengalaman masing-masing. Ada yang kuat dalam bidang keilmuan, ada yang berpengalaman dalam organisasi, ada pula yang memiliki jaringan nasional maupun internasional. Keragaman kapasitas tersebut justru memperlihatkan kekayaan sumber daya manusia yang dimiliki NU.

Yang paling penting bukan sekadar siapa yang menang, tetapi bagaimana seluruh warga NU tetap bersatu setelah muktamar berakhir. Sejarah NU menunjukkan bahwa pergantian kepemimpinan selalu menjadi bagian dari dinamika organisasi, sedangkan persatuan jam’iyah harus tetap menjadi prioritas utama.

Muktamar hendaknya dipahami sebagai ruang mencari kemaslahatan, bukan ruang mempertajam perbedaan. Siapa pun yang nantinya memperoleh amanah sebagai Ketua Umum PBNU adalah hasil keputusan forum permusyawaratan tertinggi organisasi yang wajib dihormati dan didukung bersama.

Dalam tradisi NU, jabatan bukanlah tujuan akhir, melainkan amanah untuk berkhidmah. Karena itu, setiap kandidat sejatinya sedang menawarkan pengabdian, bukan sedang memperebutkan kekuasaan. Semangat inilah yang harus terus dijaga agar marwah NU tetap terpelihara.

Banyaknya calon Ketua Umum PBNU juga menunjukkan bahwa NU memiliki stok kepemimpinan yang melimpah. Ini merupakan modal besar bagi organisasi untuk menghadapi berbagai tantangan kebangsaan, keumatan, perkembangan teknologi, pendidikan, ekonomi, serta dinamika global pada masa mendatang.

Warga NU patut menyambut Muktamar NU ke-35 dengan penuh optimisme. Perbedaan aspirasi hendaknya menjadi energi untuk memperkaya gagasan, bukan memperuncing konflik. Kompetisi ide jauh lebih bermartabat daripada kompetisi yang dipenuhi sentimen pribadi.

Siapa pun yang terpilih adalah bagian dari keluarga besar NU. Yang belum memperoleh amanah tetap merupakan aset organisasi yang sangat berharga. NU membutuhkan seluruh kader terbaiknya untuk terus mengabdi sesuai bidang masing-masing.

Semoga Muktamar NU ke-35 menjadi muktamar yang penuh keberkahan, melahirkan kepemimpinan yang amanah, memperkuat ukhuwah an-nahdliyah, serta menghadirkan keputusan-keputusan strategis bagi kemajuan umat, bangsa, dan peradaban. Banyaknya calon Ketua Umum PBNU bukanlah alasan untuk berpecah, melainkan bukti bahwa pohon besar bernama Nahdlatul Ulama terus tumbuh subur dan menghasilkan banyak pemimpin yang siap melanjutkan estafet perjuangan para muassis.

Facebook Comments Box

Baca Juga