Zaenuddin Endy
Komunitas Pecinta Indonesia, Nusantara, dan Ulama (KOPINU)
Tahun 2026 menjadi momentum yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Sulawesi Selatan, dengan diperingatinya Haul 400 Tahun Tuanta Salama Syekh Yusuf Al-Makassary (1626–2026). Empat abad sejak kelahirannya, cahaya pemikiran, keteladanan, dan perjuangan beliau tetap bersinar, melintasi batas ruang, waktu, bahkan benua. Nama Syekh Yusuf tidak hanya dikenang sebagai ulama besar Nusantara, tetapi juga sebagai pejuang kemerdekaan, sufi, pendidik, dan tokoh kemanusiaan yang jejaknya diakui oleh dunia.
Syekh Yusuf lahir di Tallo, Kerajaan Gowa, pada tahun 1626. Sejak usia muda, beliau menunjukkan kecintaan yang luar biasa terhadap ilmu pengetahuan. Perjalanan intelektualnya membawanya menuntut ilmu ke berbagai pusat peradaban Islam, mulai dari Aceh, Yaman, Makkah, Madinah, hingga Damaskus. Dari pengembaraan tersebut lahirlah seorang ulama yang memiliki keluasan ilmu syariat, kedalaman tasawuf, dan kematangan dalam memimpin umat.
Masyarakat Sulawesi Selatan mengenang beliau dengan penuh penghormatan sebagai Tuanta Salama, sebuah gelar yang mencerminkan kemuliaan akhlak, kesucian hidup, serta pengabdian tanpa batas kepada agama dan kemanusiaan. Gelar tersebut lahir dari kecintaan masyarakat kepada sosok ulama yang mampu memadukan ilmu, amal, dan perjuangan dalam satu kesatuan yang utuh.
Syekh Yusuf mengajarkan bahwa dakwah tidak cukup dilakukan melalui mimbar dan pengajian, tetapi juga melalui keteladanan hidup. Beliau memperlihatkan bahwa seorang ulama harus hadir di tengah masyarakat, membela keadilan, menguatkan kaum lemah, dan menjadi penjaga nilai-nilai kemanusiaan.
Perjuangan beliau melawan kolonialisme menunjukkan bahwa agama tidak boleh dipisahkan dari pembelaan terhadap martabat manusia. Bersama para pejuang pada zamannya, Syekh Yusuf berdiri teguh menghadapi penjajahan. Akibat perjuangan tersebut, beliau mengalami pengasingan ke Sri Lanka, kemudian ke Afrika Selatan. Namun pengasingan justru menjadi jalan penyebaran dakwah Islam yang damai dan penuh kasih sayang.
Di Afrika Selatan, Syekh Yusuf membangun komunitas Muslim yang kokoh, mengajarkan tauhid, akhlak, dan persaudaraan. Karena itulah beliau dikenang bukan hanya sebagai milik Indonesia, tetapi juga sebagai tokoh penting dalam sejarah Islam di Afrika Selatan. Warisan perjuangannya menjadi jembatan persahabatan antara dua bangsa hingga hari ini.
Sebagai seorang sufi, Syekh Yusuf menunjukkan bahwa tasawuf bukanlah jalan menjauh dari kehidupan, melainkan jalan membersihkan hati agar mampu menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat. Spiritualitas yang beliau ajarkan melahirkan keberanian, kejujuran, kesederhanaan, dan kepedulian sosial.
Haul 400 tahun ini menjadi kesempatan untuk menghidupkan kembali tradisi keilmuan yang diwariskan Syekh Yusuf. Generasi muda perlu diperkenalkan kepada karya-karya, pemikiran, dan metode dakwah beliau agar memahami bahwa Islam berkembang melalui ilmu, dialog, akhlak, dan keteladanan, bukan melalui kebencian dan kekerasan.
Di tengah tantangan zaman yang ditandai oleh polarisasi sosial, krisis moral, dan derasnya arus informasi, ajaran Syekh Yusuf semakin relevan. Beliau mengajarkan keseimbangan antara hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia, antara ibadah individual dan tanggung jawab sosial.
Peringatan haul tidak semestinya berhenti pada pembacaan doa dan zikir bersama. Momentum ini perlu diwujudkan dalam seminar ilmiah, penelitian, penerbitan naskah, penguatan pendidikan, serta pelestarian situs-situs sejarah yang berkaitan dengan perjalanan hidup Syekh Yusuf. Dengan demikian, haul menjadi gerakan kebudayaan dan gerakan intelektual yang terus menghidupkan warisan beliau.
Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, Haul 400 Tahun Tuanta Salama Syekh Yusuf Al-Makassary merupakan kebanggaan sekaligus amanah. Kebanggaan karena tanah Sulawesi Selatan telah melahirkan seorang ulama bertaraf dunia, dan amanah karena nilai-nilai perjuangannya harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Empat abad telah berlalu sejak kelahiran Syekh Yusuf Al-Makassary. Namun cahaya ilmunya tidak pernah redup, semangat perjuangannya tidak pernah padam, dan keteladanannya tetap hidup dalam hati umat. Semoga Haul 400 Tahun Tuanta Salama Syekh Yusuf Al-Makassary (1626–2026) menjadi momentum kebangkitan spiritual, intelektual, dan moral, sekaligus memperteguh komitmen untuk membangun peradaban yang berlandaskan ilmu, keadilan, kedamaian, dan kemanusiaan sebagaimana telah dicontohkan oleh beliau sepanjang hayatnya.