Oleh : HM. Ashar Tamanggong
Pagi ini saya sempat bingung.
Biasanya setelah salat Subuh, pikiran langsung berlari: “Hari ini rapat apa? Siapa yang mau ditemui? Berkas apa yang harus ditandatangani?”
Hari ini… tidak ada.
Telepon juga lebih sopan. Grup WhatsApp lebih sunyi. Bahkan meja kerja seperti berkata, “Silakan istirahat, Pak.”
Ternyata begini rasanya purnabakti.
Lucu juga. Selama ini kita sering merasa kantor tidak bisa berjalan tanpa kita. Begitu kita selesai, kantor tetap buka, lampu tetap menyala, pegawai tetap bekerja, dan program tetap berjalan.
Barulah saya sadar, yang tidak tergantikan bukan manusia, tetapi amanah. Manusianya berganti, amanahnya tetap berjalan.
Lima tahun memimpin BAZNAS Makassar mengajarkan satu pelajaran besar. Yang paling berat ternyata bukan mengumpulkan zakat, melainkan menjaga hati agar tetap ikhlas. Sebab angka bisa dihitung, tetapi keikhlasan hanya Allah yang tahu.
Saya bersyukur pernah menyaksikan bagaimana zakat mampu mengubah wajah yang muram menjadi ceria, bagaimana tangan yang dulu menerima kini mulai belajar memberi. Di situlah saya mengerti, rezeki bukan sekadar berpindah tangan, tetapi berpindah menjadi keberkahan.
Hari ini saya tidak membawa stempel. Tidak membawa jabatan. Yang saya bawa pulang hanyalah kenangan, persahabatan, doa-doa para mustahik, dan semoga… sedikit pahala.
Saya teringat satu kenyataan yang sering kita lupakan. Di kantor, kita dipanggil “Pak Ketua”. Di rumah, kita tetap dipanggil sesuai peran kita. Dan kelak di hadapan Allah, kita tidak dipanggil berdasarkan jabatan, tetapi berdasarkan amal.
Jabatan itu seperti mikrofon. Selama di tangan kita, suara kita terdengar keras. Begitu mikrofonnya diambil, barulah kita tahu, apakah orang mendengar karena suara kita… atau karena mikrofonnya.
Karena itu jangan sedih ketika jabatan selesai. Yang perlu disedihkan adalah jika kesempatan berbuat baik ikut selesai.
Saya percaya, pensiun hanya berlaku untuk jabatan. Tidak untuk kebaikan. Tidak untuk sedekah. Tidak untuk dakwah. Tidak untuk mendoakan orang lain. Tidak untuk menjadi manusia yang bermanfaat.
Terima kasih kepada seluruh muzakki, para mustahik, para amil, pemerintah, ulama, media, dan semua sahabat yang telah menemani perjalanan lima tahun ini. Mohon maaf atas segala kekurangan. Saya hanyalah manusia yang sedang belajar menunaikan amanah.
Hari ini saya meninggalkan kursi ketua dengan senyum.
Sebab saya tahu, kursi memang harus ditinggalkan. Tetapi jejak pengabdian, semoga tidak pernah hilang.
Bukankah hidup ini memang seperti estafet? Tongkat berpindah, pelari berganti, tetapi tujuan akhirnya tetap sama: mencari rida Allah.
Selamat tinggal jabatan. Jangan khawatir, saya tidak akan merindukanmu. Yang akan selalu saya rindukan adalah kesempatan untuk terus menjadi jalan bagi kebahagiaan orang lain.
Semoga setiap lembar pengabdian selama lima tahun menjadi amal jariyah yang terus mengalir, bahkan setelah masa jabatan berakhir.
Manggarupi, 7 – 7 – 2027 eh 2026. Hehehe