Andi Muh.Dahri saat menyampaikan laporan.
Jakarta, Pedomanku.id:
Menyongsong akhir masa pendidikan, Mahasantri semester akhir Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin, Jakarta, resmi menggelar Sidang Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Tabligh, Rabu 6 Mei 2026. Sidang ini menjadi muara dari perjalanan syiar dan khidmat mereka yang sebelumnya telah membentang melintasi berbagai penjuru Nusantara.
Berbekal keilmuan dan keteguhan niat, para mahasantri ini telah menyelesaikan masa pengabdian mereka di delapan titik strategis yang tersebar di Indonesia. Jejak langkah dakwah mereka terekam mulai dari kota budaya Jogja, pesisir Majene, hingga dataran Gowa. Syiar tersebut juga mengakar di Tosora (Kabupaten Wajo), menyusuri Sidrap, menggema di pusat ibu kota Jakarta, hingga menjangkau wilayah Palu dan Jeneponto.
Ke delapan kota tersebut menjadi saksi bisu atas dedikasi para mahasantri dalam menebar nilai-nilai luhur keagamaan di tengah dinamika kultural masyarakat setempat. Sidang LPJ ini pun tidak dimaknai sekadar sebagai pemenuhan kewajiban administratif akademik, melainkan sebuah manifestasi kejujuran, dialektika, dan pertanggungjawaban moral atas amanah yang telah dipikul.
Sidang LPJ ini berlangsung khidmat sekaligus menegangkan. Di hadapan dewan asatidz dan panelis penguji, setiap kelompok tidak hanya melaporkan jumlah jamaah atau rutinitas majelis taklim, tetapi diwajibkan menyajikan analisis sosial yang komprehensif. Mereka membedah kendala sosiologis, efektivitas metode dakwah kultural yang diterapkan, hingga transparansi pengelolaan program pemberdayaan masyarakat.
“Rangkaian tabligh di delapan kota ini mengajarkan kami bahwa ilmu yang sejati adalah ilmu yang mampu menjelma menjadi pelita di tengah realitas umat. Sidang ini adalah bentuk kristalisasi dari peluh dan perjuangan tersebut,” tutur Rizal Muttaqin
Ini adalah bentuk “audit” menyeluruh tidak hanya membedah data dan fakta di lapangan, tetapi juga menguji kejujuran nurani para mahasantri. Pertanyaan-pertanyaan kritis dari para penguji memaksa mahasantri untuk berdialektika, merefleksikan apakah kehadiran mereka benar-benar memberikan resolusi atas problematika umat, atau sekadar menggugurkan kewajiban.
Sementara itu, KH. Akbar Saleh. B.A, Pimpinan Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin, menekankan bahwa sidang ini adalah bagian dari komitmen pesantren dalam mencetak dai yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual. “Kami tidak mencetak dai yang hanya pandai berceramah, tetapi dai yang mampu membaca zaman, memahami konteks, dan bertanggung jawab atas setiap jejak yang mereka tinggalkan. Ini adalah amanah, bukan sekadar gelar. Sidang ini adalah validasi bahwa mereka siap menjadi dai yang tidak hanya berbicara tentang umat, tetapi benar-benar hadir untuk umat.”
Proses sidang berlangsung intens dan penuh dialektika. Para penguji tidak hanya menguji kelengkapan laporan, tetapi menggali kedalaman refleksi, keikhlasan niat, dan dampak nyata yang ditinggalkan di lokasi pengabdian.
“Kami tidak mencari kesempurnaan administratif, tetapi menguji apakah ilmu yang dibawa benar-benar menyentuh hati masyarakat dan meninggalkan jejak perubahan yang berkelanjutan. Sidang ini adalah ruang dialektika yang jujur sekaligus ujian nurani sebelum mereka resmi mengemban amanah sebagai dai di tengah masyarakat,” Ustaz Usaman Saleh La Ede, S.E. Ketua Dewan Penguji Sidang LPJ, dalam sambutannya.
Keberhasilan purna tugas ini diharapkan menjadi batu loncatan, bukan akhir dari perjalanan. Para mahasantri diharapkan tetap merawat nalar kepedulian dan menjaga nyala dakwah agar senantiasa berpendar di tengah dinamika zaman. Sidang LPJ Tabligh ini menandai purna tugas program pengabdian sekaligus menjadi gerbang penentu sebelum mereka secara resmi dikukuhkan sebagai alumni. Keberhasilan syiar di delapan wilayah ini diharapkan menjadi titik tolak baru bagi para mahasantri untuk terus melangkah, merawat nalar kepedulian, dan menjaga nyala dakwah agar senantiasa berpendar di bumi pertiwi. (Asep Alfarizi Yulianto)