Makassar , Pedomanku,id:
Keluhan nyeri dan kaku pada leher menjadi salah satu masalah muskuloskeletal yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat. Kondisi yang dikenal sebagai mechanical neck pain ini dapat berkaitan dengan peningkatan ketegangan otot serta munculnya myofascial trigger point, yaitu area tertentu pada otot yang mengalami ketegangan dan dapat menimbulkan nyeri.
Kurangnya pemahaman masyarakat mengenai faktor risiko, pencegahan, serta penanganan awal keluhan nyeri leher menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang dilaksanakan oleh tim dosen fisioterapi.
Melalui kegiatan tersebut, kader kesehatan mendapatkan edukasi dan pelatihan mengenai mechanical neck pain, myofascial trigger point, faktor risiko, serta langkah-langkah pencegahannya. Kader juga diperkenalkan dengan Instrument Assisted Soft Tissue Mobilization (IASTM) sebagai salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam upaya perbaikan kondisi jaringan lunak.
Kegiatan dilaksanakan secara bertahap. Peserta terlebih dahulu memperoleh edukasi mengenai mechanical neck pain dan myofascial trigger point, termasuk faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya keluhan serta upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan muskuloskeletal. Setelah sesi edukasi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi dan praktik dasar penggunaan IASTM pada daerah leher.
Pelatihan tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga memberikan kesempatan kepada kader untuk mempraktikkan teknik yang telah didemonstrasikan. Pendampingan dilakukan selama proses praktik agar kader dapat memahami prinsip penggunaan teknik secara tepat dan aman.

Hasil pelaksanaan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan keterampilan kader setelah mengikuti rangkaian edukasi dan pelatihan. Kader memperoleh pengetahuan mengenai faktor risiko dan pencegahan myofascial trigger point, sekaligus mendapatkan keterampilan dasar dalam penggunaan IASTM pada daerah leher.
Keterlibatan kader menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Selain mengikuti edukasi dan pelatihan, kader turut membantu koordinasi peserta, mobilisasi, pendampingan selama kegiatan, serta mengikuti proses evaluasi pengetahuan dan keterampilan. Dengan demikian, kader tidak hanya berperan sebagai penerima manfaat, tetapi juga diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya promotif dan preventif kesehatan muskuloskeletal di masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan menghadapi beberapa tantangan, terutama dalam menyesuaikan waktu dengan jadwal kader serta adanya perbedaan tingkat pengetahuan dan pengalaman peserta. Kondisi tersebut diatasi melalui penyesuaian penyampaian materi, demonstrasi, dan pendampingan secara bertahap. Meskipun terdapat keterbatasan waktu, seluruh tahapan utama edukasi dan pelatihan tetap dapat dilaksanakan.
Kegiatan ini diharapkan menjadi salah satu langkah untuk memperkuat kapasitas kader kesehatan dalam mengenali dan mencegah keluhan muskuloskeletal, khususnya mechanical neck pain. Pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh diharapkan dapat terus diterapkan dalam kegiatan pelayanan dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui pemberdayaan kader, edukasi kesehatan tidak berhenti pada saat kegiatan berlangsung, tetapi dapat menjadi dasar bagi keberlanjutan upaya promotif dan preventif di lingkungan masyarakat. Tim pelaksana juga merencanakan pemantauan keberlanjutan kegiatan melalui komunikasi dengan mitra untuk mengetahui penerapan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh kader.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini sekaligus menunjukkan peran fisioterapi tidak hanya dalam penanganan gangguan gerak dan fungsi, tetapi juga dalam edukasi, pencegahan, dan pemberdayaan masyarakat untuk mempertahankan kesehatan muskuloskeletal. (*)