Sungguminasa, Pedomanku,id:
Kekompakan adalah fondasi Utama di atas bangunan bisnis media siber masa kini. Tanpa kekompakan, media-media siber akan menjadi penonton di rumah sendiri, bahkan tergilas. Namun, dengan kekompakan yang solid, maka media tidak hanya mampu bertahan di tengah badai disrupsi, tetapi juga mampu mendikte arah masa depan jurnalisme siber yang sehat, independen, dan secara bisnis menguntungkan.
Di era ekonomi digital saat ini, jaringan adalah segalanya. Media-media siber lokal sering kali beroperasi secara mandiri, bahkan berjalan sendiri-sendiri. Jika itu dibiarkan, yakinilah media media tersebut hanyalah “remah-remah”–atau bagian bagian kecil yang hancur, pecah, atau hanyalah serpihan dari sebuah benda. Media yang’remah-remah’ ini mudah diabaikan, dan akan tertinggal jauh.
“Media siber lokal yang berjalan sendiri sendiri ibarat sebatang lidi. Mudah dipatahkan angin krisis, diabaikan. Bahkan didikte. Untuk itulah, SMSI harus berfungsi sebagai pandai besi. Dengan menaungi perusahaan media, tentunya SMSI memiliki bargaining daya tawar yang kuat, ketika berhadapan dengan siapapun. Tanpa ketajaman , tanpa kekompakan kolektif, media akan digilas habis.
Tetapi, jika media siber bersatu di bawah payung Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) misalnya, maka, yakinilah dinamika berubah drastis. Kekompakan menciptakan bargaining power, atau daya tawar yang masif. Kekompakan SMSI dipandang sebagai mitra strategis, bukan sekadar pemain pinggiran. Di sinilah solidaritas bertransformasi menjadi keuntungan finansial.
Demikian yang mengemuka dalam pertemuan jajaran SMSI Kabupaten Gowa di Warkop Bundu, belakang Balla Lompoa, Sungguminasa, Sabtu, 24 Oktober malam tadi. Pertemuan dipimpin Ketua SMSI Gowa, Nursyahril itu berjalan santai, dan sesekali diselingi ‘daya ledak’. Hadir pula Sekretaris–Hasdar Raga, dan bendahara-Mirwan, serta ketua ketua bidang dan anggota.
Rapat koordinasi dan konsolidasi internal pengurus ini guna membahas penguatan soliditas dan kebersamaan dalam organisasi, evaluasi kepengurusan dan kegiatan organisasi, serta membahas agenda kerja dan langkah langkah strategis SMSI Kabupaten Gowa ke depan.
Nursyahrir mengaku, di era modern yang ditandai dengan percepatan arus informasi, ada pergeseran perilaku konsumen yang drastis. Dia memberi contoh, model bisnis media konvensional dulu selalu bersandar pada profesionalisme, namun kini mulai runtuh dan bergeser. Karenanya, di tengah lanskap yang penuh ketidakpastian ini, SMSI hadir sebagai lokomotif. Dimana profesionalisme mulai bergeser ke bisnis.
“Nah, tentunya lokomotif itu membutuhkan satu bahan bakar utama yang membuatnya mampu dan terus melaju. Bahan bakar itu adalah semangat dilandasi kekompakan. Bagi SMSI, kekompakan bukanlah sekadar jargon moral atau slogan kebersamaan organisasi semata. Dalam kaca mata ekonomi bisnis media massa kini, kekompakan adalah strategi bertahan hidup, sekaligus aset ekonomi bernilai tinggi. Bukan ece ece,” tegasnya.
Jurnalis senior Harian Ujungpandang Ekspres di jamannya itu mengemukakan, jika dianalogikan dalam dunia pertarungan bisnis modern, SMSI juga diibaratkan sebilah pedang yang tajam bagi ekosistem ekonomi media. Namun, pedang bermata dua. Di satu sisi bisa menjadi alat perlindungan yang mematikan bagi musuh, atau justru melukai, jika tidak dipegang dengan bijak.
“SMSI adalah pedang tajam yang dibutuhkan industri untuk membabat habis ketidakpastian pasar, melindungi jurnalisme berkualitas dari ancaman kepunahan, dan memastikan bahwa roda bisnis media siber tetap berputar di atas rel kesejahteraan,” ujarnya.
Jika kompak, tentunya SMSI bertindak sebagai bilah pedang yang menyaring. Pedang tajam bernama SMSI juga harus diarahkan untuk bertransformasi menjadi inkubator bisnis andal. Panglima tertinggi dalam bisnis media modern adalah, terletak pada kemampuan beradaptasi dan berkolaborasi.
Sebelum mengakhiri pernyataannya, Nursyahrir melihat, SMSI hari ini bukan lagi sekadar wadah berkumpulnya para pemilik media, melainkan sebuah instrumen strategis dalam pertarungan ekonomi politik media.
“Perlu kita kethahui bersama bahwa, di tangan pemimpin visioner, pedang SMSI akan memastikan media siber bukan sekadar bertahan hidup, melainkan juga merajai masa depan ekonomi digital,” tutupnya. (din pattisahusiwa/smsi gowa).