Makassar, pedomanku.id:
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menekankan pentingnya guru untuk terus meningkatkan profesionalitas dan kemampuan adaptasi, khususnya dalam menghadapi perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI).
Pesan itu disampaikan Munafri, yang akrab disapa Appi, saat membuka Gerakan Nasional 1 Juta Guru Mahir Koding dan Kecerdasan Artifisial melalui Program PGRI Power 2026 di Aula BBGTK Provinsi Sulawesi Selatan, Jalan Adiyaksa, Makassar, Selasa (20/10/2026). Kegiatan tersebut diselenggarakan PGRI Kota Makassar dan diikuti 265 guru dari berbagai sekolah di Kota Makassar.
Menurut Appi, pendidikan merupakan persoalan masa depan. Karena itu, fondasi pendidikan yang kuat perlu dibangun sejak sekarang, salah satunya melalui peningkatan kompetensi tenaga pendidik.
“Kalau kita berpikir dalam dan detail tentang pendidikan, artinya kita berpikir tentang masa depan. Masa depan yang baik, masa depan yang berhasil harus dimulai dengan kuatnya fondasi masa sekarang,” ujarnya.
Appi menilai, perkembangan teknologi telah mengubah berbagai aspek kehidupan, termasuk pola komunikasi, akses informasi, serta cara generasi muda belajar dan berinteraksi. Ia menyebut algoritma dan AI kini telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
Meski demikian, Wali Kota menegaskan teknologi tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran guru. Menurutnya, proses belajar-mengajar tidak hanya menyangkut penyampaian materi, tetapi juga melibatkan empati, hati, dan jiwa dalam hubungan antara guru dan peserta didik.
“Kita mau, bagaimana guru-guru mampu menaklukkan teknologi dan menjadikan teknologi sebagai sarana yang tepat untuk menghasilkan proses belajar-mengajar yang baik bagi anak-anak kita,” jelasnya.
Guru Harus Adaptif
Appi juga mengingatkan perubahan karakteristik peserta didik dari generasi ke generasi. Ia mengatakan, pola komunikasi dan perilaku anak saat ini tidak dapat dinilai hanya dengan pengalaman pendidikan pada masa lalu.
Menurutnya, dahulu murid cenderung menjaga jarak dengan guru karena wibawa pendidik. Kini, peserta didik lebih terbuka berkomunikasi, bertanya, bahkan menyampaikan pandangan secara langsung kepada guru.
“Perubahan tersebut merupakan bagian dari dinamika zaman yang perlu dipahami oleh tenaga pendidik,” tuturnya.
Karena itu, ia menekankan guru perlu bersikap adaptif agar dapat membangun komunikasi yang baik dengan peserta didik serta memahami perkembangan bahasa, pola pikir, dan lingkungan digital yang memengaruhi kehidupan mereka.
“Yang harus menjadi tugas kita adalah menjadi guru yang adaptif. Kuncinya ini, adaptif, mampu mengikuti perkembangan,” ungkapnya.
Appi menambahkan, kemampuan adaptasi merupakan bagian dari profesionalitas guru. Pemahaman terhadap perkembangan zaman, kata dia, memungkinkan tenaga pendidik menghadirkan pembelajaran yang relevan tanpa meninggalkan pembentukan karakter dan etika.
Dukung Program PGRI
Dalam kesempatan itu, Appi mengapresiasi PGRI yang mendorong peningkatan kemampuan guru dalam koding dan AI. Ia menilai program tersebut strategis untuk mempersiapkan guru menghadapi transformasi digital.
Menurutnya, penguasaan teknologi oleh guru dapat menciptakan kesetaraan pemahaman antara pendidik dan peserta didik, terutama ketika teknologi digital semakin dekat dengan kehidupan anak-anak.
Appi berharap para peserta memanfaatkan kegiatan tersebut secara maksimal untuk memperluas wawasan dan meningkatkan kompetensi.
“Artinya, kita sudah berpikir jauh ke depan, berpikir tentang masa depan, berpikir tentang persiapan landasan untuk membangun sebuah generasi masa depan. Dimulai dari kemampuan guru itu sendiri,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua PGRI Kota Makassar Dr Pantja Nur Wahidin melaporkan bahwa Program PGRI Power diikuti 265 guru dari berbagai sekolah di Kota Makassar dan berlangsung selama tiga hari.
Ia menjelaskan, Gerakan Nasional 1 Juta Guru Mahir Koding dan AI merupakan program mandatori Pengurus Besar PGRI melalui platform PGRI Power untuk meningkatkan kompetensi digital tenaga pendidik di Indonesia. Program nasional tersebut menargetkan satu juta guru terlatih dalam AI, koding, computational thinking, dan inovasi pembelajaran digital.
“Target minimal yaitu 500 guru mahir koding dan AI di Kota Makassar dan target untuk tahun ini yaitu 600 guru di Kota Makassar,” tutupnya.
Acara turut dihadiri Ketua PGRI Sulawesi Selatan Prof Dr Hasnawi Haris, M.Hum, Kepala BBGTK Provinsi Sulawesi Selatan Dr. Arman Agung, Staf Ahli Wali Kota Makassar Akhmad Namun, serta sejumlah pejabat Pemkot Makassar dan Dinas Pendidikan Makassar. Program PGRI Power sendiri merupakan bagian dari gerakan nasional untuk memperkuat kompetensi guru dalam teknologi digital, koding, dan AI. (Win).