Makassar, Pedomanku,id:
Keunggulan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar periode 2026/2031 lantaran memiliki salah satu pimpinan bergelar profesor. Ia adalah Prof Dr Yusriani, SKM, M. Kes. Kehadiran Guru Besar dalam Bidang Ilmu Komunikasi, Promosi dan Pendidikan Kesehatan Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar menjadi angin segar bagi berkembangnya peran lembaga pemerintah nonstrukural ini lebih baik dan lebih maju dibandingkan periode sebelumnya.
Selain Prof Dr Yusriani, SKM, M. Kes, Senin, 6 Juli sore hari ini, Walikota Makassar, Munafri Arifuddin juga melantik empat pimpinan BAZNAS lainnya masing masing Dr.Yusran Sofyan, Usman Sofyan, H.Ahyar Amnur,S.Pd, dan Abdul Aziz Ilyas. Pimpinan BAZNAS Makassar baru ini mengantikan HM.Ashar Tamanggong, Ahmad Taslim, Syaharuddin Mayang, Waspada Santing, dan Jurlan Em Saho’as.
Kehadiran Prof Dr.Yusriani,SKM,M.Kes diharapkan menjadi penguat kredibilitas lembaga amil terpercaya dan amanah beralamat di Jalan Teduh Bersinar No 5 Makassar itu. Termasuk, kemampuan merumuskan kebijakan berbasis riset, serta pengembangan program pemberdayaan umat yang inovatif dan terukur. Keahlian akademis tingkat tinggi menjamin pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) berjalan secara profesional, transparan, dan sesuai standar syariah.
Seperti diketahui, Prof.Dr.Yusriani adalah alumni pertama Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UMI Makassar. Dia dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang ilmu komunikasi, promosi dan pendidikan kesehatan pada Selasa 2023 di Auditorium Al Jibra Kampus UMI.
Di usianya yang ke-40 tahun, ia Ia berhasil meraih gelar akademik tertinggi dan mencatatkan namanya sebagai alumni pertama di FKM UMI yang bergelar Profesor. Prof Yusriani dalam pengukuhan profesor membawakan pidato berjudul, “Akselerasi Penurunan Angka Kematian Ibu Melalui Integrasi Teknologi Media Komunikasi Kesehatan dalam Strategi Promosi Kesehatan Berbasis Local Wisdom”.

Prof Yusriani menjelaskan, tema pidato guru besar ini merupakan bagian dari hasil temuan penelitiannya yang berfokus pada upaya menurunkan angka kematian ibu. Terutama dalam meningkatkan imunitas ibu hamil. “Budaya Masyarakat di Sulawesi Selatan berpengaruh terhadap perilaku kesehatan reproduksi baik secara positif maupun negatif,” ungkapnya, ketika itu, Selasa, 23 Januari tiga tahun lalu.
Sementara itu, mantan Ketua BAZNAS Kota Makassar, HM.Ashar Tamanggong usai pelantikan pengganti diirnya dan empat rekannya mengemukakan, setidaknya pimpinan baru BAZNAS Makassar dengan latar belakang yang beragam—perpaduan antara praktisi lapangan, akademisi, dan praktisi keuangan syariah. Keberagaman profil ini dianggap sebagai aset krusial untuk memperluas jangkauan dakwah zakat, terutama di kalangan milenial dan pelaku industri digital di Makassar.
“Tantangan inilah, maka diharapkan kehadiran Prof.Dr.Yusriani bersama rekan rekannya di BAZNAS Makassar periode 2026/2031 dapat bersinergi lebih baik lagi dengan visi pemerintah kota Makassar demi mewujudkan Makassar yang lebih sejahtera dan berkeadilan,” tuturnya.
Penulis Buku Langit tak Pernah Offline itu melihat, kehadiran akademisi dengan reputasi intelektual tinggi, yakni Prof.Dr. Yusriani menjadi sinyal kuat bahwa BAZNAS Makassar ke depan tidak hanya akan berfokus pada pengumpulan zakat konvensional, tetapi juga mengedepankan pendekatan manajemen strategis berbasis riset dan pemberdayaan berkelanjutan.
“Keahlian akademik yang dimiliki Prof.Yusriani diharapkan mampu memetakan persoalan kemiskinan di Ibukota Sulawesi Selatan ini secara lebih presisi,” tambahnya.
Dengan basis data dan pendekatan ilmiah, distribusi zakat tidak lagi hanya bersifat konsumtif, tetapi bertransformasi menjadi modal pemberdayaan yang mampu mengangkat martabat mustahik menjadi muzakki (pemberi zakat) di masa depan. (din pattisahusiwa/tim media banzas makassar)