Zaenuddin Endy
Komunitas Pecinta Indonesia, Nusantara, dan Ulama (KOPINU)
Muktamar NU ke-35 telah selesai. Seluruh dinamika, perdebatan, perbedaan pandangan, pilihan, harapan, dan ikhtiar yang mengiringi perjalanan menuju forum tertinggi organisasi itu kini telah menjadi bagian dari sejarah Nahdlatul Ulama. Apa pun yang terjadi di dalamnya, kita harus menerimanya sebagai bagian dari perjalanan panjang sebuah organisasi yang sejak awal dibangun oleh para ulama dengan semangat khidmah, keikhlasan, dan pengabdian kepada umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Kita tidak pernah pulang dengan kepala tertunduk.
Kita pulang dengan kepala tetap tegak, membawa ruhul jihad yang sama, semangat khidmah yang tidak padam, dan kecintaan kepada NU yang tidak boleh berkurang hanya karena hasil muktamar tidak seluruhnya sesuai dengan harapan dan pilihan kita. Sebab, bagi seorang nahdliyin, perjuangan tidak pernah semata-mata tentang menang atau kalah. Perjuangan adalah tentang menjaga niat, mempertahankan prinsip, menghormati keputusan bersama, dan tetap istiqamah ketika keadaan tidak berjalan sebagaimana yang kita kehendaki.
Kita tetap bersama guru-guru kita. Kita tetap berada di belakang ulama-ulama kita yang selama ini mengajarkan bahwa NU bukan sekadar organisasi, tetapi jalan pengabdian. Dari mereka kita belajar bahwa khidmah tidak boleh bergantung kepada jabatan, posisi, atau kemenangan dalam sebuah kontestasi. Ketika seseorang benar-benar menjadikan NU sebagai jalan perjuangan, maka ia akan tetap mengabdi meskipun namanya tidak disebut, tetap bekerja meskipun tidak mendapatkan posisi, dan tetap berdiri meskipun tidak selalu berada di barisan yang menjadi pemenang.
Di sinilah kita perlu merenungkan sebuah kaidah: الرِّضَا بِالشَّيْءِ رِضًا بِمَا يَتَوَلَّدُ مِنْهُ, “Ridha terhadap sesuatu berarti ridha terhadap apa yang lahir atau timbul sebagai akibat darinya.” Kaidah ini mengajarkan kepada kita tentang kedewasaan dalam menerima konsekuensi dari sebuah proses. Ketika kita memilih NU sebagai jalan perjuangan, maka kita harus siap menerima seluruh dinamika yang lahir dari perjalanan organisasi tersebut. Kita tidak hanya menerima hal-hal yang sesuai dengan keinginan kita, tetapi juga harus mampu menerima kenyataan yang mungkin berbeda dari harapan.
Ridha tentu bukan berarti kehilangan sikap kritis. Ridha bukan pula berarti membenarkan segala sesuatu tanpa pertimbangan. Ridha adalah kemampuan untuk menerima kenyataan dengan hati yang lapang, tanpa kehilangan prinsip dan tanpa menghentikan ikhtiar untuk melakukan perbaikan. Kritik tetap diperlukan, tetapi kritik harus lahir dari kecintaan dan tanggung jawab. Perbedaan tetap boleh ada, tetapi perbedaan tidak boleh berubah menjadi permusuhan. Pilihan boleh berbeda, tetapi persaudaraan jangan sampai putus hanya karena sebuah kontestasi organisasi.
Muktamar telah selesai. Karena itu, tidak semestinya kita terus hidup dalam suasana kontestasi. Energi yang sebelumnya digunakan untuk berdebat, menyusun strategi, meyakinkan muktamirin, dan memperjuangkan pilihan, kini harus dikembalikan kepada tujuan yang lebih besar: membangun NU dan menghadirkan manfaat bagi umat. Tidak ada lagi “kami” dan “mereka”. Tidak ada lagi kelompok yang menang dan kelompok yang kalah. Yang ada adalah kita, keluarga besar Nahdlatul Ulama, yang memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga amanah para muassis.
Kita harus kembali kepada ruang-ruang pengabdian. Kembali ke pesantren, madrasah, kampus, masjid, majelis taklim, masyarakat, dan berbagai medan perjuangan tempat NU selama ini tumbuh dan memberikan manfaat. Kaderisasi harus diperkuat. Pendidikan harus dikembangkan. Pesantren harus diberdayakan. Tradisi keilmuan harus dijaga. Ekonomi umat harus diperkuat. Kepedulian sosial dan ekologis harus diperluas. Dan yang tidak kalah penting, NU harus tetap menjadi kekuatan moral yang mampu berdiri bersama masyarakat sekaligus memberikan arah bagi kehidupan kebangsaan.
Kita boleh berbeda pilihan dalam muktamar, tetapi jangan sampai berbeda dalam kecintaan kepada NU. Kita boleh kecewa terhadap suatu keputusan, tetapi jangan sampai kekecewaan membuat kita kehilangan adab kepada guru dan ulama. Kita boleh memiliki pandangan yang berbeda tentang arah organisasi, tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita lupa bahwa NU jauh lebih besar daripada kepentingan pribadi, kelompok, maupun generasi tertentu.
NU adalah amanah sejarah. Ia diwariskan oleh para ulama bukan untuk diperebutkan sebagai sumber kekuasaan, melainkan untuk dirawat sebagai jalan khidmah. Karena itu, setelah muktamar selesai, ukuran keberhasilan kita bukan lagi siapa yang menang dan siapa yang kalah. Ukuran keberhasilan kita adalah apakah NU semakin kuat, kader-kadernya semakin matang, pesantrennya semakin berdaya, umatnya semakin terlayani, dan nilai-nilai keislaman serta kebangsaan semakin kokoh dalam kehidupan masyarakat.
Mungkin tidak semua yang kita perjuangkan menjadi keputusan.
Mungkin tidak semua yang kita harapkan menjadi kenyataan. Tetapi kita tidak boleh kehilangan keyakinan bahwa setiap ikhtiar yang dilakukan dengan niat yang tulus akan meninggalkan jejak kebaikan. Dalam perjuangan NU, tidak ada ikhtiar yang benar-benar sia-sia. Sebagian mungkin menjadi keputusan hari ini, sebagian menjadi pelajaran untuk esok hari, dan sebagian lainnya mungkin baru menemukan maknanya bertahun-tahun kemudian.
Maka, mari kita pulang dari muktamar dengan hati yang lapang. Kita bawa pulang pengalaman, pelajaran, persaudaraan, dan hikmah. Kita tinggalkan segala ketegangan yang tidak lagi diperlukan. Kita hentikan pertarungan yang telah selesai dan kita mulai perjuangan yang jauh lebih penting: menjaga NU agar tetap menjadi rumah besar bagi umat, tempat para ulama dihormati, ilmu dikembangkan, tradisi dirawat, kader dilahirkan, dan kemanusiaan diperjuangkan.
Kita tidak pernah pulang dengan kepala tertunduk. Kita pulang dengan kepala tegak, karena kita tahu bahwa perjuangan kita tidak berhenti di ruang muktamar. Ruhul jihad yang diwariskan oleh guru-guru kita masih tetap menyala. Keikhlasan para ulama masih menjadi teladan. Dan jalan khidmah masih terbentang panjang di hadapan kita.
Muktamar hanyalah satu episode dalam perjalanan panjang NU. Pilihan telah berlalu, keputusan telah menjadi sejarah, tetapi khidmah belum selesai. Karena itu, apa pun posisi kita setelah muktamar, mari kembali menjadi nahdliyin yang bekerja dengan tulus, bergerak dengan ilmu, bersikap dengan adab, dan berjuang dengan keikhlasan.
Tetaplah bersama guru-guru kita. Tetap hormati ulama-ulama kita yang tulus menjaga NU. Tetap teguh dalam prinsip, tetapi tetap rendah hati dalam sikap. Sebab pada akhirnya, kita tidak sedang memperjuangkan kemenangan diri sendiri. Kita sedang menjaga sebuah amanah yang jauh lebih besar daripada diri kita: amanah NU, amanah para ulama, amanah umat, dan amanah sejarah.
Muktamar telah selesai. Kita telah melewati satu fase. Kini saatnya kembali berkhidmah. Dan kita akan tetap berjalan dengan kepala tegak, hati yang lapang, serta ruhul jihad yang sama bersama guru-guru kita, bersama ulama-ulama kita, dan bersama seluruh nahdliyin untuk terus menjaga dan membesarkan Nahdlatul Ulama.