Makassar, Pedomanku,id:
Esai Religi tentang Islam, Manusia, dan Zaman yang dirangkum dalam buku berjudul ‘Langit tak Pernah Offline” begitu menarik. Buku setebal 170 halaman ini, ditulis HM.Ashar Tamanggong. Da’i yang juga Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar ini menggandeng Bachtiar Adnan Kusuma– tokoh literasi dan perbukuan nasional sebagai editor.
Sebagai bagian dari BAZNAS Kota Makassar, tentunya bangga memiliki ketua yang selalu mengaitkan setiap kata dengan aksi, bekerja, berbagi, dan berinovasi. Lebih bangga lagi, lantaran saya mendapat hadiah buku yang mengisahkan perjalanan spiritual di tanah suci, Mekkah langsung dari tangan sang penulis.
Buku yang diterbitkan Yapensi 2026, Jalan Muslim Daeng Tutu GTH B11 Parangtambung, Kota Makassar itu diserahkan langsung ATM—sapaan akrab Ashar Tamanggong, Senin, 9 Maret 2026. Hadiah buku ini kepada saya, lantaran sejak diunggah di Grup BAZNAS saya tertarik akan judulnya. Judul ini ibarat sebuah paradox yang memancing keingintahuan, sekaligus menimbulkan rasa penasaran. Makanya sesekali saya menagih. Dan, Alhamdulillah, buku itu pun saya miliki.
Bahkan, Wakil Ketua IV Bidang Adminitrasi, Umum, dan SDM—BAZNAS Kotas Makassar, H,Jurlan Em Saho’as, Rabu, 10 Maret di ruang kerjanya mengatakan, “Nyong—sebutan akrab saya (Syarifuddin Pattisahusiwa)—“Kamu itu Beruntung dapat Buku dari Pak Ketua—Langit tak Pernah Offline, sementara yang lain belum dapat”. Saya pun tersenyum.
Bagi saya, pemberian hadiah dari pimpinan kepada bawahannya, meski kertas yang berisi narasi berkualitas, sebagai penanda, pimpinan itu telah menyalakan sebuah titik terang, di antara ribuan bintang yang mengelilingi langit. Satu pesan sederhana dalam hadiah berarti “seseorang itu, tidak pernah sendirian, bahkan ketika offline sekalipun”.
Setidaknya, ada dua hal menarik dari judul ini. Langit—luas, tak berujung, selalu terbuka—menjadi simbol kebebasan, harapan, dan juga tanggung jawab. Sementara Offline—dalam dunia yang kini hampir semua hal terhubung—menjadi metafora kerentanan, keheningan, dan ruang berpikir.
Lalu mengapa ATM mengangkat judul yang menantang logika digital “Langit tak Pernah Offline”? Mungkin saja dalam pandangan Da’i Kondang kelahiran Dusun Terang-Terang, Desa Popo, Galesong Selatan, Kabupaten Takalar 17 Pebruari 1973 ini, , Langit— itu maha luas. Tak berujung. Selalu terbuka—menjadi simbol kebebasan, harapan, dan juga tanggung jawab. Offline—dalam dunia yang kini hampir semua hal terhubung—menjadi metafora kerentanan, keheningan, dan ruang untuk berpikir.
Seorang ilmuwan-penulis, Dira Pratama, menulis “Kita hidup di era yang semua data mengalir bebas, namun sejatinya ada satu jaringan yang tidak pernah putus: jaringan matahari, awan, dan bintang. Langit mengingatkan kita bahwa ada koneksi yang tak memerlukan sinyal, hanya kehadiran.”
Langit tak pernah offline, karena selalu menyiarkan tanda‑tanda (ayat) Allah, memberi notifikasi berupa cahaya, hujan, dan ketenangan. Ketika kita menutup mata pada jaringan digital, jangan sampai menutup pula mata pada jaringan spiritual yang tak pernah terputus.
Sebagai alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) era 88 Komisariat Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) Al-Gazali—Kini Universitas Islam Makassar (UIM), tentunya saya memegang teguh pada nilai nilai Ahlusunnah Waljamaah-atau istilah kerennya-ASWAJA. Makanya, izinkan saya mengaitkan narasi ‘Langit tak Pernah Offline” ini dalam pandangan NU.
Bagi NU “Jika internet menandai jaringan‑jaringan kabel, sinyal, dan satelit, maka langit adalah jaringan ilahi yang tak pernah putus sambungannya.”
Dalam buku klasik al‑Falak al‑Islamiyyah karya Imam Al‑Bukhari al‑Jawi, di antaranya memaparkan bahwa, para ulama di masa Abbasiyah mempelajari pergerakan bintang untuk menandai waktu sholat. Bagi mereka, langit bukan sekadar latar belakang, melainkan jam digital yang tak membutuhkan baterai.
Ketika malam, Sunan Kalijaga mengajarkan “Malam, bila bintang terbit, itu artinya Allah mengingatkan hamba‑Nya untuk berdoa,”—di sini tidak perlu menunggu notifikasi di ponsel. Langit sudah menyiarkannya sejak dulu kala, terus‑menerus, tanpa jeda.
Meski begitu, tidak semua orang dapat “menangkap” sinyal tersebut. Seperti sinyal Wi‑Fi yang lemah bila dinding beton menghalangi, hati yang keras dan tertutup menolak mengerti bisikan angin, gemetar hujan, atau kilau aurora. Itulah mengapa, Nahdlatul Ulama mengajarkan bahwa kebersihan hati adalah antena terbaik.
Habib Abdullah al‑Ghalib menulis, “Aku meneguk air hujan, bukan sekadar memuaskan dahaga, melainkan menyerap iman yang mengalir dari langit.” Air hujan tidak pernah “offline”; ia selalu mengalir, dan bila hati bersedia, kita pun akan “download” rahmat itu.
Khatib modern di Masjid Besar Surabaya pernah berkata dalam sebuah ceramah livestream: “Saudara‑saudara, jika sinyal Wi‑Fi di rumah Anda putus, tidak apa‑apa. Karena ada satu sinyal yang selalu stabil—cahaya langit. Jangan biarkan mata hati Anda terputus, karena Allah selalu menyiarkan cahaya-Nya.”
Kalimat itu menjadi viral, menembus batas bahasa, menembus jaringan, menegaskan kembali bahwa dalam pandangan kaum sarungan ini, langit adalah jaringan universal yang tidak pernah offline.
Guru Besar Hasyim Asy’ari pernah menyinggung sebuah kebijaksanaan sederhana. “Jika Anda menatap langit pada fajar, Anda sedang menyimak siaran langsung Sang Pencipta.” Bukan sekadar metafora; bagi NU, langit memang merupakan stasiun pemancar yang tidak pernah mengalami “offline”.
Saat dunia modern berdebat tentang kecepatan jaringan, kebijakan privasi, atau “lag” pada streaming, ulama NU mengingatkan kembali, “Ada satu jaringan yang lebih tua dan lebih stabil daripada jaringan 5G mana pun—jaringan yang bersumber dari ‘Al‑Bari’ (Sang Pencipta). Langit, dalam perspektif mereka, terus‑menerus menyiarkan ayat‑ayat Tuhan, mengundang setiap hati yang bersedia menjadi “receiver” yang setia.
Lembaran lembaran awal buku ini tertulis ‘Dialog Tanpa Jeda” yang tertera dalam kata pengantar. Di sini, sang penulis—ATM—mengakui buku ini bukan sebagai tuntunan yang menggurui, melainkan sebagai teman perjalanan bagi siapapun yang mencari makna di balik rutinitas serba instan.
Sering kali kita terjebak dalam hiruk pikuk dunia yang menuntut kecepatan. Kita berlari mengejar pencapaian, memastikan diri tetap terhubung dengan jaringan global, namun kerap abai pada satu hal paling mendasar, “Koneksi Batin Kita dengan Sang Pencipta”.
‘Langit tak Pernah Offline’ adalah sebuah perenungan tentang kehadiran tuhan yang konstan dalam setiap napas. Kita sering kali mencari tuhan di tempat tempat jauh, padahal Dia senantiasa menunggu untuk disapa melalui dialog dialog jujur dalam sujud dan doa,”.
Tulisan tulisan putera dari pasangan H.Tamanggong Daeng Lira dan Hj.Nuraeni Daeng Kebo di buku ini juga mencoba membedah bahwa, setiap aspek kehidupan, mulai dari cara mengelola amarah, bagaimana memperlakukan tetangga, hingga cara mendidik anak, adalah bentuk ibadah yang nyata.
Buku ini juga, ATM mencoba menuangkan refleksi dalam perjalanan spiritual di tanah suci—sebuah perjalanan yang mengajarkan bahwa, identitas duniawi hanyalah topeng yang harus ditanggalkan.
Di antara hamparan Raudhah dan keheningan Baqi, ATM menyadari bahwa, hidup ini hanyalah sebuah perjalanan singkat, dengan tanggungjawab sangat berat. Kita diajak untuk melihat, salat bukan sebagai hadiah terindah dari langit yang mensucikan batin dan mengangkat derajat kemanusiaan.
Di sisi lain, dunia mungkin bisa kehilangan sinyal, dan manusia mungkin bisa menutup pintu komunikasinya. Namun, langit selalu terbuka lebar. Ia tidak pernah tertidur, tidak pernah sibuk, dan tidak pernah memutuskan koneksinya dengan hamba yang ingin pulang.
Buku ‘Langit tak Pernah Offline’ ini terbagi dalam tiga bagian. Pertama, Jangan Lupa Bahagia. Kedua Umrah dan Haji–Perjalanan jiwa yang menyenangkan. Dan ketiga, Isra Miraj dan Penegakan Salat.
Sementara itu kanal berita milenia Bandungpos,id menulis judul “Sambut 17 Ramadhan, Ustas ATM Persembahkan dua buku, Langit tak Pernah Offline dan Musafir Kehidupan. Bwerita yang juga di share di Grup BAZNAS Makassar menulis, HIDUP laksana musafir sedang bersafar dan setiap musafir memiliki karakter berbeda-beda. Ada yang bersantai sampai tidak ada apa-apa yang dia bawa pulang, ada juga musafir yang menjelajah mencari hikmah agar nanti saat waktu pulang itu, dia bisa mengumpulkan berkah. Adalah Ashar Tamanggong, seorang da’i, akademisi, pembimbing haji dan umrah serta pengurus dana umat selaku Ketua Baznas kota Makassar telah menjelajah hidup. Banyak titik singgah itu ada cerita menarik yang ingin disebarkan agar menjadi inspirasi.
Dr.H.Ashar Tamanggong,MA mempersembahkan dua buku karyanya. Pertama bertajuk, Langit Tak Pernah Offline (kumpulan Esai inspiratif) dan kedua, Musafir Kehidupan (perjalanan Ashar Tamanggong) hadir menyambut Peringatan Nuzulul Quran.
Melalui buku kumpulan esainya Langit Tak Pernah Offline ini, Ashar Tamanggong hadir bukan untuk menggurui, melainkan mengajak pembaca berhenti sejenak dan menyadari satu kebenaran mendasar bahwa langit tak pernah offline. Penulis kedua buku ini, selain Langit tak Pernah Offline juga Musafir Kehidupan mengajak kita menelusuri kembali hakikat kehidupan melalui pertanyaan-pertanyaan jujur, “Apakah kita benar-benar bahagia, atau sekadar sibuk memoles citra di mata orang lain?”
Langit Tak Pernah Offline adalah pengingat bahwa di tengah dunia yang sering kehilangan nurani, sinyal ketuhanan selalu tersedia bagi mereka yang mau kembali terhubung. 33 tulisan Judul karya Dr.H.Ashar Tamanggong, MA ditulis, diramu di atas alas sajadah taqwa. Tak sekadar diksi, tapi apa yang dibicarakan di atas mimbar masjid, diurai dan disampaikan kembali melalui tulisan di buku ini. Contoh da’i yang baik dan penulis. (din pattisahusiwa/tim media banzas kota makassar)