Zaenuddin Endy
Komunitas Pecinta Indonesia, Nusantara, dan Ulama (KOPINU)
Menjelang Muktamar NU ke-35, berbagai nama terus mengemuka sebagai figur yang dinilai layak memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Dinamika ini merupakan sesuatu yang wajar dalam organisasi besar seperti NU. Perbedaan pilihan adalah bagian dari tradisi demokrasi organisasi, selama tetap berada dalam koridor ukhuwah an-nahdliyah dan menjaga marwah jam’iyah.
Di tengah berbagai pembahasan tersebut, menarik untuk merenungkan satu hal. Dalam sejarah Islam, nama Yusuf selalu menghadirkan gambaran tentang kepemimpinan yang matang, sabar, dan berorientasi pada kemaslahatan. Bukan berarti nama menentukan takdir seseorang, tetapi kisah Nabi Yusuf AS telah menjadi simbol kepemimpinan yang melampaui zamannya.
Nabi Yusuf memperoleh kepemimpinan bukan melalui konflik yang berkepanjangan, melainkan karena integritas, kapasitas, dan kepercayaan publik. Setelah melewati berbagai ujian, beliau dipercaya mengelola perbendaharaan Mesir dan berhasil membawa negeri itu melewati masa krisis. Kepemimpinannya lahir dari kemampuan, bukan sekadar ambisi.
Pelajaran tersebut relevan bagi NU. Organisasi sebesar Nahdlatul Ulama memerlukan pemimpin yang mampu menjaga persatuan di tengah beragam aspirasi. Muktamar seharusnya menjadi arena adu gagasan dan pengabdian, bukan ajang mempertajam perpecahan.
Jika kita mencermati perjalanan sejumlah tokoh bernama Yusuf di berbagai bidang, banyak di antara mereka dikenal memiliki gaya kepemimpinan yang teduh, komunikatif, dan mampu merangkul berbagai kelompok. Tentu hal ini bukan disebabkan oleh namanya semata, tetapi karena nilai-nilai yang melekat pada keteladanan Nabi Yusuf sering menjadi inspirasi dalam membangun karakter kepemimpinan.
Dalam konteks NU, karakter seperti itulah yang dibutuhkan. PBNU bukan sekadar organisasi keagamaan, tetapi juga penjaga tradisi, perekat kebangsaan, sekaligus pengayom jutaan warga nahdliyin. Karena itu, pemimpinnya harus mampu mengedepankan hikmah, kebijaksanaan, dan kemampuan menyatukan seluruh potensi organisasi
Nama-nama yang banyak diperbincangkan menjelang Muktamar NU ke-35 adalah AGH. Prof. Dr. Nazaruddin Umar,MA, Kyai Yahya, Kyai Yusuf, Kyai Salam, Kyai Zoelva Mustafa, dan lain-lain. Banyaknya kandidat menambah khazanah pilihan bagi para muktamirin. Dalam tradisi NU, setiap calon memiliki hak yang sama untuk menawarkan gagasan dan pengabdian terbaik bagi organisasi.
Terlepas dari siapa yang nantinya terpilih, yang lebih penting adalah hadirnya pemimpin yang memiliki “spirit Yusuf”: sabar menghadapi perbedaan, amanah dalam mengemban tanggung jawab, cerdas membaca tantangan zaman, serta mampu mempersatukan seluruh elemen NU.
NU membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya kuat secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual. Pemimpin yang mampu menjadikan jabatan sebagai amanah, bukan sebagai tujuan. Pemimpin yang lebih sibuk membangun organisasi daripada membangun citra dirinya.
Kisah Nabi Yusuf juga mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus mampu mengubah ujian menjadi peluang. Di tengah tantangan global, perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta meningkatnya kompleksitas persoalan umat, NU memerlukan kepemimpinan yang adaptif tanpa kehilangan jati dirinya sebagai penjaga Ahlussunnah wal Jamaah.
Muktamar pada akhirnya akan melahirkan satu ketua umum. Siapa pun yang dipilih adalah hasil musyawarah para pemilik hak suara. Setelah keputusan ditetapkan, seluruh warga NU memiliki tanggung jawab moral untuk kembali bersatu, saling menguatkan, dan mendukung kepemimpinan yang terpilih demi kemajuan jam’iyah.
Pembahasan tentang nama Yusuf bukanlah upaya menghubungkan keberhasilan dengan nama seseorang. Sebaliknya, ia merupakan ajakan untuk meneladani nilai-nilai kepemimpinan Nabi Yusuf AS: amanah, profesional, visioner, rendah hati, dan mampu menghadirkan kemaslahatan. Bila nilai-nilai itu menjadi fondasi kepemimpinan PBNU ke depan, maka siapa pun yang terpilih insya Allah akan mampu membawa NU semakin kokoh sebagai penjaga agama, perekat bangsa, dan pelayan umat.