Zaenuddin Endy
Komunitas Pecinta Indonesia, Nusantara, dan Ulama (KOPINU)
Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama, perhatian warga Nahdliyin kembali tertuju pada siapa yang akan mengemban amanah sebagai pemimpin organisasi. Berbagai nama bermunculan dengan kelebihan dan rekam jejaknya masing-masing. Hal itu merupakan dinamika yang sehat dalam organisasi besar seperti NU. Namun, di balik semua itu, ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar siapa yang akan menang, yakni seperti apa karakter pemimpin yang dikehendaki oleh para pendiri Nahdlatul Ulama.
Jawaban atas pertanyaan tersebut sesungguhnya telah diwariskan oleh Hadhratussyekh KH. Hasyim Asy’ari dalam Qanun Asasi Nahdlatul Ulama. Beliau menyerukan, “Marilah anda semua dari golongan fakir miskin, hartawan, rakyat jelata, orang-orang kuat, berbondong-bondonglah masuk ke dalam Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, dengan penuh kecintaan, kasih sayang, rukun, bersatu, dan dengan ikatan jiwa raga.” Kalimat ini bukan sekadar ajakan bergabung, melainkan fondasi ideologis tentang watak Nahdlatul Ulama.
Dalam seruan tersebut tampak jelas bahwa NU sejak awal didirikan bukan untuk menjadi milik kelompok tertentu. NU adalah rumah besar yang menaungi seluruh lapisan masyarakat. Fakir miskin memiliki tempat yang sama dengan hartawan. Rakyat jelata memiliki kedudukan yang sama terhormatnya dengan mereka yang memiliki kekuasaan dan pengaruh.
Karena itu, pemimpin NU harus mampu menjaga rumah besar ini tetap menjadi tempat yang nyaman bagi semua. Kepemimpinan tidak boleh menghadirkan sekat-sekat baru, apalagi menciptakan kelompok yang merasa lebih memiliki NU dibandingkan kelompok lainnya.
Pesan Hadhratussyekh mengajarkan bahwa NU dibangun di atas semangat inklusivitas. Semua dipanggil untuk datang tanpa melihat latar belakang ekonomi, sosial, pendidikan, maupun kedudukan. Nilai inilah yang harus terus dihidupkan oleh setiap pemimpin NU.
Seorang pemimpin NU tidak cukup hanya memiliki kemampuan manajerial. Ia juga harus memiliki keluasan hati. Sebab organisasi sebesar NU hanya dapat dipersatukan oleh pemimpin yang mampu merangkul perbedaan, mendengar seluruh aspirasi, dan memberikan ruang kepada semua unsur untuk berkhidmat.
Kata “kecintaan” dalam Qanun Asasi mengandung makna yang sangat mendalam. Organisasi tidak akan tumbuh hanya karena aturan administrasi atau kekuatan struktur. Organisasi akan berkembang apabila dipimpin oleh seseorang yang benar-benar mencintai jamaah, ulama, pesantren, dan seluruh tradisi perjuangan Nahdlatul Ulama.
Begitu pula dengan kata “kasih sayang”. Kepemimpinan dalam tradisi NU bukanlah kepemimpinan yang dibangun dengan kemarahan, saling menjatuhkan, atau memperbesar permusuhan. Kepemimpinan NU adalah kepemimpinan yang mengedepankan akhlak, kelembutan, dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan setiap persoalan.
Di tengah kompetisi menuju Muktamar, setiap calon tentu memiliki pendukung yang loyal. Perbedaan pilihan merupakan sesuatu yang lumrah. Namun, jangan sampai perbedaan itu menghilangkan rasa persaudaraan yang selama ini menjadi ciri khas warga Nahdliyin.
Hadhratussyekh menggunakan kata “rukun” dan “bersatu” sebagai prinsip utama dalam membangun jam’iyyah. Artinya, persatuan bukanlah akibat dari kemenangan salah satu pihak, melainkan tujuan utama yang harus dijaga oleh semua pihak, baik yang menang maupun yang belum memperoleh amanah.
Pemimpin yang baik bukanlah mereka yang berhasil mengumpulkan suara terbanyak semata.
Pemimpin sejati adalah mereka yang setelah terpilih mampu memeluk seluruh warga Nahdlatul Ulama tanpa membedakan siapa yang dahulu mendukungnya dan siapa yang tidak.
NU telah melewati perjalanan sejarah yang panjang karena selalu mengutamakan persatuan dibandingkan kepentingan pribadi. Para muassis memberikan teladan bahwa perbedaan pandangan diselesaikan melalui musyawarah, bukan melalui permusuhan.
Muktamar hendaknya dipandang sebagai forum memilih pelayan organisasi, bukan arena untuk melahirkan kubu-kubu yang saling berhadapan. Jabatan hanyalah amanah, sedangkan persaudaraan adalah warisan yang harus dijaga sepanjang masa.
Kalimat “ikatan jiwa raga” mengandung pesan bahwa perjuangan di NU membutuhkan totalitas. Seorang pemimpin harus bersedia mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan kepentingan pribadinya demi kemajuan jam’iyyah dan kemaslahatan umat.
Pemimpin yang demikian akan mampu menyatukan kekuatan pesantren, ulama, akademisi, profesional, pengusaha, generasi muda, perempuan, hingga masyarakat akar rumput dalam satu barisan perjuangan yang kokoh.
Di era yang penuh tantangan ini, NU memerlukan pemimpin yang tidak hanya diterima di kalangan internal, tetapi juga mampu membangun komunikasi dengan berbagai elemen bangsa tanpa kehilangan jati diri Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah.
Lebih dari itu, pemimpin NU harus menjadi teladan dalam menjaga adab. Sebab adab selalu menjadi ciri utama tradisi pesantren yang diwariskan para ulama. Ketika adab dijaga, perbedaan tidak akan berubah menjadi permusuhan.
Jika seluruh warga Nahdliyin kembali menjadikan pesan Hadhratussyekh sebagai pedoman, maka proses Muktamar akan berlangsung dalam suasana penuh kegembiraan. Kompetisi akan melahirkan gagasan, bukan kebencian. Perbedaan akan memperkaya organisasi, bukan memecah belahnya.
Pada akhirnya, siapa pun yang memperoleh amanah sebagai pemimpin NU harus menyadari bahwa ia memimpin organisasi yang dibangun di atas cinta, kasih sayang, persaudaraan, dan pengabdian. Amanah itu bukan milik golongan tertentu, melainkan milik seluruh warga Nahdlatul Ulama.
Semoga Muktamar Nahdlatul Ulama melahirkan pemimpin yang bukan hanya cakap dalam mengelola organisasi, tetapi juga mampu menghidupkan kembali pesan luhur Hadhratussyekh KH. Hasyim Asy’ari: menjadikan NU sebagai rumah besar yang mempersatukan fakir miskin dan hartawan, rakyat jelata dan orang-orang kuat, dalam ikatan cinta, kasih sayang, kerukunan, persatuan, serta pengabdian yang tulus kepada agama, bangsa, dan kemanusiaan.